KERINCI – Kebun Teh Kayu Aro adalah hamparan hijau yang terhampar megah di kaki Gunung Kerinci, seakan menjadi permadani alam yang membelai pandangan dan menyejukkan hati.
Di atas ketinggian 1.600 meter dari permukaan laut, Kebun Teh Kayu Aro memancarkan pesona alam yang berpadu dengan jejak sejarah kolonial, menjadikannya destinasi wisata sekaligus saksi bisu perjalanan waktu di bumi Sumatera.
Awal mula kisahnya tertulis di lembaran tahun 1925, kala pemerintah kolonial Belanda di bawah naungan NV HVA membuka hutan perawan di kaki Kerinci.

Mereka menebang, merintis, dan menanam mula-mula kopi yang mereka coba, namun hasilnya jauh dari harapan. Lalu, mereka pun beralih menanam teh, dan di sanalah sejarah mulai terpatri.
Seiring waktu, kebun ini bukan hanya berkembang menjadi perkebunan, tapi juga menjadi salah satu produsen teh hitam terbaik di dunia.
Teh hitam dari Kayu Aro yang sarat rasa, harum wangi, dan berkarakter menembus batas negeri.
Rasanya yang khas dan kualitasnya yang tiada tara menjadikan teh ini sebagai komoditas berkelas dunia.
Pasca kemerdekaan, riwayat pengelolaan kebun ini juga turut berliku. Pergantian tangan dan pengelolaan silih berganti, hingga akhirnya pada tahun 1974, kebun teh ini resmi dinaungi oleh PT Perkebunan VIII. Namun, perjalanan belum usai.

Pada 1996, terjadi konsolidasi dengan berbagai perusahaan di Sumatera Barat dan Jambi, melahirkan entitas baru bernama PT Perkebunan Nusantara VI yang hingga kini menjadi pengelola resmi kebun legendaris ini.
Pada 1998, dua tahun kemudian, pengelola membuka pintu kebun ini lebar-lebar sebagai destinasi wisata.
Di sana, alam bercerita lewat desir angin, gemericik embun pagi, dan semilir harum teh yang menguar di udara.
Takjub, saat menapaki jalan kecil di antara petak teh, di bawah langit biru dan megahnya Gunung Kerinci.
Dilarang mengambil dan menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin Redaksi.

















