DURI – Hingga Maret 2026, data resmi mengenai Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Provinsi Riau untuk tahun 2026 masih belum dirilis secara lengkap oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
Namun, berdasarkan laporan terakhir yang tersedia, tren pengangguran di Riau menunjukkan kecenderungan meningkat sepanjang tahun 2025 dan menjadi gambaran kondisi ketenagakerjaan saat ini.
Berdasarkan laporan dari Badan Pusat Statistik Provinsi Riau, tingkat pengangguran di Riau pada Februari 2025 tercatat sebesar 4,12 persen. Angka ini mengalami kenaikan sekitar 0,27 poin persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Kenaikan tersebut masih berlanjut pada periode berikutnya. Pada Agustus 2025, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Riau kembali meningkat menjadi 4,16 persen.
Jika dibandingkan dengan kondisi pada tahun 2024, angka tersebut mengalami kenaikan sekitar 0,46 poin persen.
Selain itu, sepanjang tahun 2025 tercatat sekitar 2.500 pekerja di Riau kehilangan pekerjaan akibat Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
Kondisi ini turut mempengaruhi peningkatan jumlah pengangguran di daerah yang dikenal sebagai salah satu pusat industri dan perkebunan di Pulau Sumatera tersebut.
Sementara itu, untuk data terbaru tahun 2026, pihak Badan Pusat Statistik biasanya akan merilis laporan Tingkat Pengangguran Terbuka periode Februari pada bulan Mei setiap tahunnya.
Karena itu, hingga saat ini informasi yang tersedia masih merujuk pada evaluasi kondisi ketenagakerjaan sepanjang tahun 2025.
Secara nasional, tingkat pengangguran di Indonesia pada tahun 2026 diproyeksikan berada di kisaran 4,70 persen berdasarkan model proyeksi ekonomi yang digunakan dalam perencanaan pembangunan. Angka ini menjadi gambaran awal terhadap kondisi pasar tenaga kerja nasional, termasuk di daerah-daerah seperti Riau.
Di sisi lain, struktur lapangan kerja di Provinsi Riau masih didominasi oleh beberapa sektor utama. Data dari Pemerintah Provinsi Riau menunjukkan bahwa sektor pertanian masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan kontribusi sekitar 34,40 persen.
Selain itu, sektor perdagangan menempati posisi kedua dengan kontribusi sekitar 18,28 persen, disusul sektor industri pengolahan yang menyerap sekitar 8,13 persen tenaga kerja di provinsi tersebut.
Kondisi ini menunjukkan bahwa perekonomian Riau masih sangat bergantung pada sektor berbasis sumber daya alam dan perdagangan. Fluktuasi harga komoditas, kondisi industri, serta dinamika investasi menjadi faktor penting yang dapat mempengaruhi tingkat penyerapan tenaga kerja di daerah tersebut.
Secara keseluruhan, data terakhir yang tersedia menunjukkan bahwa angka pengangguran di Riau masih berada dalam tren meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
Dilarang mengambil dan menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin Redaksi.
















