DURI – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kabupaten Bengkalis, Riau, tercatat mencapai 28.241 kasus sepanjang Januari hingga Agustus 2026.
Data tersebut menunjukkan persoalan gangguan pernapasan masih menjadi perhatian, terutama di tengah penurunan kualitas udara akibat kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Bengkalis.

Pada Agustus 2026, Kecamatan Mandau menjadi wilayah dengan jumlah kasus ISPA tertinggi, yakni mencapai 1.112 kasus.
Meski secara kumulatif kasus ISPA Januari-Agustus 2026 tercatat 28.241 kasus, jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencapai 65.445 kasus.
Kabut Asap Karhutla Jadi Perhatian
Penurunan kualitas udara akibat kabut asap karhutla menjadi salah satu faktor yang berkaitan erat dengan meningkatnya risiko gangguan pernapasan masyarakat.
Paparan asap dapat mengganggu saluran pernapasan, terutama bagi kelompok masyarakat yang lebih rentan. Kondisi ini perlu menjadi perhatian seiring masih terjadinya kebakaran hutan dan lahan di sejumlah kawasan di Kabupaten Bengkalis.
Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkalis mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan ketika kualitas udara memburuk.
Masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar rumah apabila kondisi udara kurang baik.
Jika harus beraktivitas di luar ruangan, masyarakat dianjurkan menggunakan masker untuk mengurangi paparan udara yang tercemar.
Kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat dengan penyakit tertentu juga diminta lebih berhati-hati terhadap dampak buruk kualitas udara.
Selain itu, masyarakat dianjurkan memperbanyak konsumsi air putih dan segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat apabila mengalami gejala gangguan pernapasan yang tidak kunjung membaik.
Kondisi kualitas udara dan kasus ISPA menjadi perhatian penting karena dampak kabut asap tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek, tetapi juga dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan apabila paparan berlangsung terus-menerus.
Pemerintah daerah bersama masyarakat diharapkan terus melakukan upaya pencegahan karhutla dan mengurangi paparan asap, khususnya di wilayah yang kualitas udaranya mulai memburuk.
Dilarang mengambil dan menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin Redaksi.












