OPINI – maling teriak maling Ungkapan selalu relevan ketika pihak yang paling vokal menuduh orang lain justru memiliki rekam jejak atau kepentingan tersembunyi yang lebih gelap.
Fenomena ini seperti cermin retak dalam ruang publik: suara keras sering menutupi kelemahan sendiri, sementara masyarakat dipaksa menerima drama yang dikemas seperti kebenaran.

Dalam banyak kasus sosial, politik,praktik ini muncul ketika seseorang ingin mengalihkan perhatian dari perbuatannya.
Tuduhan sengaja diletakkan pada pihak lain agar publik fokus pada musuh bayangan, bukan pada persoalan yang sebenarnya.
Ironisnya, strategi ini kadang berhasil, terutama jika dimainkan oleh oknum yang berpengaruh.
Namun publik semakin cerdas.
Ketika pelaku sesungguhnya justru sibuk memfitnah pihak lain, masyarakat mulai mempertanyakan: siapa yang sesungguhnya bersalah? Mengapa ia begitu panik? Mengapa ia begitu aktif memframing orang lain?
Opini ini mengingatkan bahwa integritas tidak bisa dibangun dari serangan tanpa bukti.
Jika seseorang bersih, ia tidak perlu menutupi kebenarannya dengan menjatuhkan orang lain. Pada akhirnya, waktu akan membongkar mana fakta dan mana sekadar sandiwara.
Masyarakat perlu tetap kritis, tidak mudah terseret provokasi, dan terus menuntut transparansi. Sebab dalam situasi “maling teriak maling”, yang paling dirugikan bukan hanya pihak yang dituduh, tetapi juga publik yang haknya atas informasi benar ikut tercabik.
Dilarang mengambil dan menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin Redaksi.

















