RIAU – Anemia kini menjadi ancaman kesehatan yang sering tak disadari para remaja, meski dampaknya bisa sangat serius bagi tumbuh kembang dan kemampuan belajar.
Di masa remaja, tubuh membutuhkan asupan gizi lebih banyak untuk menunjang pertumbuhan. Namun, gaya hidup modern seperti melewatkan sarapan, jarang makan sayur, dan sering mengonsumsi makanan cepat saji membuat risiko semakin tinggi.

Selain faktor pola makan, menstruasi pada remaja perempuan juga menjadi penyebab dominan. Satu siklus menstruasi dapat memicu kehilangan 30–40 miligram zat besi, dan bila tidak diimbangi nutrisi yang cukup, kadar hemoglobin perlahan menurun.
Aktivitas fisik intens tanpa asupan yang memadai, kurang tidur, hingga stres akademik turut memperparah kondisi ini.
Anemia sendiri adalah kondisi ketika tubuh kekurangan sel darah merah sehat untuk membawa oksigen.
WHO menetapkan batas hemoglobin di bawah 12 g/dL untuk remaja perempuan dan 13 g/dL untuk laki-laki sebagai indikator anemia.
Kebanyakan kasus pada remaja disebabkan oleh anemia defisiensi besi, namun bisa juga dipicu kekurangan vitamin, penyakit kronis, gangguan penyerapan nutrisi, hingga pertumbuhan cepat saat pubertas.
Sejumlah gejala sering dianggap sepele, seperti cepat lelah, wajah pucat, pusing, jantung berdebar, sulit fokus, hingga napas pendek saat aktivitas ringan. Padahal, tanda-tanda tersebut bisa menunjukkan tubuh kekurangan oksigen akibat rendahnya hemoglobin.
Pakar kesehatan mengingatkan, anemia yang tidak ditangani dapat menghambat konsentrasi, prestasi belajar, dan produktivitas remaja.
Deteksi dini melalui pemeriksaan hemoglobin serta memperbaiki pola makan menjadi kunci pencegahan.
Sumber Halodoc
Dilarang mengambil dan menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin Redaksi.

















