Ia mengaku sudah mempelajari budaya Melayu dalam kuliah di kajian ilmu kepolisian tahun 2001 sampai 2003 yang mana pembimbing tesisnya merupakan peneliti dari suku Sakai.
“Di sini yang mana dalam komunikasi saya dengan pembimbing tesis saya, selalu menggambarkan bagaimana nilai-nilai dan budaya suku Sakai kita yang luar biasa di tengah-tengah budaya Melayu,” katanya saat berpidato dalam acara Sidang Paripurna DPRD Riau dalam rangka Pengucapan Sumpah/Janji Pengganti Antar Waktu (PAW) Anggota DPRD Riau dari Fraksi Gerindra, Lampita Pakpahan.
Agung mengatakan ketika Telegram keluar dan namanya menjadi salah satu Kapolda di Indonesia yang dimutasi, ada yang suka dan ada yang tidak suka.
“Tapi ini adalah realita, hidup harus berjalan dan tugas harus diselesaikan. Saya mohon doanya untuk bisa menyelesaikan tugas di Mabes Polri yang mana Riau menjadi bagian tidak terpisahkan dari Republik Indonesia,” jelas Agung.
“Saya menyampaikan terima kasih atas kerjasama selama ini dengan seluruh fraksi dan anggota DPRD Riau, adalah harmoni yang luar biasa. Dari tempat ini kegiatan dan aktivitas legislatif berjalan sebagaimana harapan masyarakat. Tapi saya mengingatkan bahwa tujuan besar kita belum tercapai. Kita jangan terjebak dengan kesuksesan-kesuksesan kecil,” harap Irjen Pol Agung Setya Imam Effendi.
“Sekali lagi saya ucapkan terimakasih kepada Pemerintah dan DPRD Provinsi Riau atas kerjasamanya selama saya menjabat sebagai Kapolda Riau,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin Redaksi.
















