“Sebelum merekrut pelaku menjadi tenaga pengajar, kita sudah lakukan seleksi, salah satunya baca Al – Qur’an. Intinya kita tidak bisa menjustis seseorang, biarlah pengadilan yang menghakimi pelaku,”ungkapnya.
Dikatakan Khusaini yang juga diketahui sebagai mantan wakil rakyat diparlemen Bengkalis ini, awalnya setelah kami mendengar aksi tidak terpujinya, kami berusaha memanggil dan pelaku hanya mengatakan iya.”Kami tidak pernah menutup nutupi hal ini, jika salah ya salah. Silahkan proses. Kehidupan tak ada yang abadi. Manusia punya kelemahan dan kelebihan,”ucapnya.

Terpisah, salah seorang tokoh masyarakat Duri Timur, Novi Syafrizal menanggapi permasalahan itu mengaku prihatin dan sangat menyesali. Masyarakat Duri Timur yang kini tengah membangun dunia pendidikan juga mencerdaskan generasi penerus bangsa harus tercoreng dengan ulah moral oknum guru tersebut.
“Pihak sekolah harus bertanggung jawab akan hal ini dikarenakan sisi religulius sekolah sangat kental. Dikarenakan perekrutan tenaga pendidik dan jalannya aktifitas pendidikan ini hanya dilakukan pihak sekolah dan tidak melibatkan tokoh masyarakat yang ada disekelilingnya. Ini sangat disayangkan,”sesalnya.
Seperti diketahui, 4 orang murid yang diketahui menjadi korban ulah cabul pelaku, namun hanya seorang yang berani memberikan kesaksian didepan penyidik Polsek Mandau. Tidak menutup kemungkinan, jumlah korban masih akan terus bertambah seiring perjalanan proses penyidikan.**
Dilarang mengambil dan menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin Redaksi.















