DURI – Donasi Bencana Sumatera kembali menggema dari Kota Duri setelah Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Duri berhasil menghimpun Rp26.675.000 hanya dalam waktu empat hari. Aksi kemanusiaan ini digerakkan oleh KAMMI Duri, BEM ITMG, HMJ PWK UT, Forum Mahasiswa Duri, Forsisma, HMI, IMKM, Senat Mahasiswa STAI HW, dan Berperan Indonesia, menunjukkan bahwa kepedulian tidak ditentukan oleh besarnya kota, tetapi oleh luasnya hati para pemudanya.
Aksi tersebut menjadi simbol bahwa nurani bangsa belum mati. Dengan keberanian yang tumbuh dari kepedulian, para pemuda Duri turun ke jalan menggalang donasi dari masyarakat. Bantuan kemudian disalurkan melalui Laz Ibadurrahman untuk meringankan beban korban bencana di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.

“Setiap rupiah yang terkumpul adalah doa. Setiap langkah adalah bukti bahwa kemanusiaan selalu menemukan jalannya,” ujar Efri, koordinator aliansi sekaligus Ketua KAMMI Duri, Kamis (11/12/2025).
Bencana yang mengguncang wilayah Sumatera bukan hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga mengoyak rasa aman ribuan warga. Melihat kondisi itu, mahasiswa dan pemuda Duri memilih untuk tidak tinggal diam. Mereka turun langsung, mengetuk pintu hati masyarakat, dan mengajak publik kembali merajut simpul-simpul solidaritas yang sempat terurai.
Gerakan ini, menurut Efri, bukan sekadar respons cepat terhadap bencana, tetapi juga bukti bahwa pemuda masih memegang peran penting sebagai penjaga nurani bangsa. “Jika pemuda tak bergerak hari ini, lalu siapa yang kita harap akan menjaga masa depan negeri ini?” tegasnya.
Melalui Laz Ibadurrahman, bantuan yang terkumpul kini tengah disalurkan kepada warga yang kehilangan rumah, keluarga, dan pegangan hidup. Meski demikian, mereka tidak kehilangan harapan—karena dari Duri, sekelompok pemuda memilih untuk hadir dan menguatkan.

Solidaritas ini menjadi pesan kuat bahwa generasi muda bukan sekadar penonton sejarah, melainkan penulisnya. Aksi ini menegaskan bahwa ketika pemuda bersatu, kebaikan mampu bergerak lebih jauh, menjangkau lebih banyak jiwa, dan menerangi gelapnya luka bencana.
“Indonesia kuat bukan karena tak pernah jatuh, tetapi karena selalu ada tangan-tangan yang saling menguatkan,” tutup Efri.
Dilarang mengambil dan menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin Redaksi.

















