DURI – Perayaan Tahun Baru Imlek di Kota Duri, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, bukan sekadar momentum pergantian tahun bagi masyarakat Tionghoa, tetapi juga menjadi simbol kuat pelestarian tradisi dan nilai budaya yang diwariskan lintas generasi. Hingga kini, berbagai rangkaian tradisi Imlek masih dijalankan dengan khidmat dan penuh makna oleh warga Tionghoa di kota industri tersebut.
Setiap menjelang Imlek, suasana Kota Duri mulai terasa berbeda. Lampion-lampion merah menghiasi rumah, ruko, hingga kelenteng. Warna merah yang mendominasi dipercaya sebagai lambang keberuntungan, kebahagiaan, dan perlindungan dari energi negatif.

Persiapan Imlek biasanya sudah dilakukan sejak beberapa hari sebelumnya, termasuk membersihkan rumah sebagai simbol membuang kesialan dan menyambut keberuntungan baru.
Salah satu tradisi yang masih lestari adalah sembahyang di kelenteng. Pada malam pergantian tahun, umat Tionghoa memadati kelenteng untuk memanjatkan doa, memohon kesehatan, rezeki, serta keselamatan di tahun yang baru. Aroma dupa yang menyelimuti area kelenteng menjadi bagian tak terpisahkan dari suasana sakral perayaan Imlek di Duri.
Tradisi makan bersama keluarga juga menjadi momen penting. Hidangan khas Imlek seperti kue keranjang, jeruk mandarin, dan berbagai masakan rumahan disajikan sebagai simbol keharmonisan dan kemakmuran. Kue keranjang, misalnya, melambangkan keakraban keluarga dan harapan agar kehidupan semakin “lengket” atau harmonis di tahun mendatang.
Selain itu, pembagian angpao masih menjadi tradisi yang dinanti, terutama oleh anak-anak. Angpao tidak hanya bernilai materi, tetapi juga mengandung pesan doa dan harapan baik dari orang tua kepada generasi muda. Di Kota Duri, tradisi ini tetap dijaga sebagai bentuk pendidikan nilai kebersamaan dan saling berbagi.
Menariknya, perayaan Imlek di Duri juga mencerminkan semangat toleransi. Warga dari berbagai latar belakang suku dan agama turut merasakan kemeriahan suasana Imlek. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi budaya dapat menjadi perekat sosial di tengah keberagaman masyarakat.
Pelestarian tradisi Imlek di Kota Duri menjadi bukti bahwa nilai budaya dapat terus hidup seiring perkembangan zaman. Di tengah modernisasi dan kesibukan kota, masyarakat Tionghoa di Duri tetap menjaga identitas budaya mereka sebagai bagian dari kekayaan budaya lokal yang patut dihargai dan dilestarikan bersama.
Dilarang mengambil dan menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin Redaksi.

















