KabarDuri, DURI – pernyataan Gubernur Riau, Abdul Wahid, dalam acara peresmian Jembatan Duplikat Sungai Masjid di Kota Dumai pada Tanggal 23/4, memicu kontroversi di tengah masyarakat terutama Masyarakat desa Buruk Bakul,Kabupaten Bengkalis.
Dalam pidatonya, Abdul Wahid menyinggung nama desa di Kabupaten Bengkalis, yaitu Desa Buruk Bakul, yang dinilai kurang layak secara citra dan makna.
“Saya ingin mengembangkan kawasan industri Bukit Batu, tapi kalau namanya Buruk Bakul, tak jadi-jadi pak Wali. Karena ‘buruk’ itu kan tak ada yang mau lihat, sudah ‘buruk’, ‘bakul’ lagi. Bakul itu tempat yang mudah rapuh, tak bisa mengangkat banyak hal.

Jadi saya bilang ke Bu Bupati Bengkalis, Kasmarni, tak usah lagi pakai nama Buruk Bakul,” ujar Gubernur Wahid di hadapan publik.Selasa (29/04).
Pernyataan ini kemudian viral di media sosial dan menimbulkan reaksi keras dari masyarakat, khususnya warga Desa Buruk Bakul.
Salah satu akun TikTok bernama @natureboy menyampaikan kekecewaannya terhadap ucapan tersebut.
Dalam videonya, ia mengatakan, “Saya asli warga Buruk Bakul, lahir di sana, saya sangat cinta dengan desa saya. Kami kecewa dengan pernyataan Gubernur Riau Abdul Wahid yang menyebut nama desa kami tidak memiliki daya jual. Semua nama daerah pasti punya sejarah.”
Sementara itu, akun Instagram @MUHAMMADIRPANDI80 juga mengomentari pidato tersebut dengan nada sarkastik, “Suaro pak Wahid di Buruk Bakul 80%”
Warga Buruk Bakul berharap Gubernur Riau bisa memahami nilai sejarah dan kearifan lokal yang melekat dalam nama desa mereka.
Mereka menegaskan, apa pun yang terjadi, nama Desa Buruk Bakul akan tetap dipertahankan.*Ramadhan
Dilarang mengambil dan menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin Redaksi.

















