KabarDuri, DURI- jauh sebelum Abdul Wahid menjabat sebagai Gubernur Riau, Desa Buruk Bakul sudah lebih dulu ditetapkan sebagai kawasan industri oleh Pemerintah Kabupaten Bengkalis.
Berdasarkan data yang diterima Kabarduri pada tahun 2014, desa Buruk Bakul secara resmi masuk dalam rencana pengembangan kawasan industri strategis.
Secara geografis, Desa Buruk Bakul memang memiliki potensi besar untuk pengembangan industri.

Wilayah pesisirnya memiliki kedalaman laut antara 14 hingga 23 meter sepanjang 5 kilometer, yang memungkinkan kapal-kapal besar dan kargo keluar masuk dengan mudah.
Fasilitas alamiah ini menjadi salah satu daya tarik utama yang mendukung status kawasan industri.
Penetapan kawasan industri ini bukan kebijakan yang baru muncul di era Gubernur Wahid, melainkan bagian dari perencanaan pembangunan jangka panjang yang telah dirumuskan sejak kepemimpinan bupati sebelumnya.
tidak pernah muncul persoalan terkait nama desa Buruk Bakul, termasuk usulan pergantian nama.
Pernyataan kontroversial Gubernur Riau Abdul Wahid dalam acara peresmian Jembatan Duplikat Sungai Masjid di dumai baru-baru ini memicu kekecewaan mendalam bagi Masyarakat Desa Buruk Bakul, Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis.
Dalam sambutannya, Gubernur Abdul Wahid “Saya ingin mengembangkan kawasan industri Bukit Batu, tapi kalau namanya Buruk Bakul, tak jadi-jadi pak Wali. Karena ‘buruk’ itu kan tak ada yang mau lihat, sudah ‘buruk’, ‘bakul’ lagi. Bakul itu tempat yang mudah rapuh, tak bisa mengangkat banyak hal.
Jadi saya bilang ke Bu Bupati Bengkalis, Kasmarni, tak usah lagi pakai nama Buruk Bakul,” ujar Gubernur Wahid di hadapan publik.
Pernyataan ini kemudian viral di media sosial dan menimbulkan reaksi keras dari masyarakat, khususnya warga Desa Buruk Bakul.*RK1
Dilarang mengambil dan menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin Redaksi.
















