DURI – Tradisi Potang Balimau kembali digelar meriah di Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, Selasa (17/2/2026).
Ribuan warga memadati pelataran Masjid Raya Pangkalan Koto Baru sebagai pusat kegiatan dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah.
Tradisi tahunan masyarakat ini dilaksanakan sehari sebelum Ramadan yang menurut ketetapan Muhammadiyah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, Prosesi adat juga berlangsung di tepian Batang Maek yang berada tepat di samping masjid.

Sejak selepas salat Zuhur, warga mulai berdatangan membawa air limau dan bunga rampai untuk mengikuti ritual mandi sebagai simbol penyucian diri menjelang bulan puasa. Suasana semakin ramai menjelang sore hingga waktu Asar, sebelum kegiatan ditutup menjelang Magrib.
Sejumlah warga mengaku tradisi Potang Balimau memiliki makna mendalam bagi kehidupan spiritual masyarakat.
Arif (39), warga Provinsi Riau, Kabupaten Bengkalis mengatakan kegiatan ini menjadi momentum membersihkan diri lahir batin.
“Setiap tahun kami ikut Potang Balimau. Rasanya seperti diingatkan untuk memperbaiki diri sebelum Ramadhan,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Arif (42), warga lainnya, yang menyebut tradisi tersebut juga mempererat kebersamaan antarwarga.
“Bukan hanya mandi limau, tapi silaturahmi dengan tetangga dan keluarga. Kami berkumpul bersama, saling memaafkan sebelum puasa,” katanya.
Sementara itu, generasi muda juga ikut meramaikan kegiatan dengan penuh antusias. Mereka menilai tradisi ini penting untuk menjaga warisan budaya sekaligus menanamkan nilai agama sejak dini.
Potang Balimau sendiri merupakan tradisi masyarakat Minangkabau yang telah berlangsung turun-temurun. Selain simbol penyucian diri, kegiatan ini juga menjadi ajang memperkuat hubungan sosial di tengah masyarakat.
Dengan digelarnya tradisi di Masjid Raya Pangkalan Koto Baru, warga berharap Ramadan tahun ini membawa keberkahan dan ketenangan bagi seluruh umat Islam. Mereka pun berharap tradisi Potang Balimau tetap lestari sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Minangkabau.*Ramadhan
Dilarang mengambil dan menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin Redaksi.
















