DURI – Suasana di dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berada di Desa Air Kulim, Kecamatan Bathin Solapan, Kabupaten Bengkalis, dilaporkan memanas. Kepala Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Air Kulim, Andre Marbun, disebut-sebut dilaporkan oleh sejumlah relawan karena sikapnya yang dianggap arogan saat memimpin aktivitas di dapur program MBG, Sabtu (14/03/2026).
Keluhan para relawan mencuat setelah mereka menyampaikan keberatan kepada petugas keamanan yang berjaga di lokasi dapur MBG.
Para relawan merasa gaya kepemimpinan Andre terlalu keras hingga menimbulkan ketidaknyamanan bagi mereka yang bekerja membantu jalannya program presiden Prabowo.

Ricco Saputra, petugas keamanan di lokasi dapur MBG Air Kulim, membenarkan adanya laporan dari para relawan terkait sikap pimpinan dapur tersebut.
“Beberapa relawan datang menyampaikan keluhan kepada kami. Mereka menilai Kepala SPPG Air Kulim bersikap terlalu arogan dalam memimpin. Sebagai petugas keamanan yang bertugas di lokasi, saya merasa perlu menyampaikan aspirasi mereka,” kata Ricco kepada awak media, Jumat (13/3/2026) sore.
Ricco juga mengaku pihaknya memiliki bukti berupa dokumentasi foto dan rekaman video yang menunjukkan sikap pimpinan tersebut saat berada di lapangan.
“Ada foto dan juga video yang memperlihatkan situasi di lapangan. Kami berharap persoalan ini bisa menjadi perhatian agar ke depan ada perbaikan,” ujarnya.
Tidak hanya sikap kepemimpinannya yang menjadi sorotan, penampilan Andre Marbun di area dapur juga memunculkan tanda tanya di kalangan relawan. Ia disebut kerap tampil dengan atribut yang menyerupai gaya kombatan, bahkan terlihat membawa sangkur serta tongkat komando saat berada di lingkungan dapur MBG.
Kehadiran atribut tersebut dinilai tidak lazim di lingkungan program sipil seperti dapur MBG. Dalam tradisi kepemimpinan formal, penggunaan tongkat komando umumnya tidak sembarangan dan biasanya diperoleh melalui proses pendidikan kepemimpinan tertentu.
Dalam institusi militer maupun lembaga kepemimpinan formal, atribut seperti tongkat komando biasanya identik dengan proses pendidikan khusus seperti Sekolah Staf dan Pimpinan (Sespim) atau Sekolah Staf dan Komando (Sesko).
Karena itu, kemunculan atribut tersebut di lingkungan dapur program gizi nasional memunculkan pertanyaan dari sejumlah relawan mengenai gaya kepemimpinan yang diterapkan.
Selain itu, terlihat dalam Foto Andre Marbun mengenakan baju kaos saat memimpin aktivitas di dapur MBG.
Hal ini juga menjadi perhatian karena berdasarkan aturan resmi, Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pada umumnya tidak menggunakan baju kaos sebagai pakaian dinas harian.
Berdasarkan Peraturan Badan Gizi Nasional (BGN) Nomor 5 Tahun 2024, pakaian dinas bagi pegawai Badan Gizi Nasional, termasuk pimpinan SPPG, telah diatur secara khusus untuk menjaga profesionalitas dan identitas lembaga.
Dalam aturan tersebut disebutkan bahwa Pakaian Dinas Harian (PDH) menggunakan kemeja berwarna khaki dengan lengan pendek atau panjang, berkerah, serta dilengkapi empat saku luar berpenutup.
Seragam tersebut juga wajib dilengkapi atribut resmi seperti logo Badan Gizi Nasional, nama pegawai, jabatan satuan kerja, NIP, serta kartu identitas pegawai (ID Card).
Sementara penggunaan baju berbahan kaos umumnya tidak termasuk dalam seragam dinas harian untuk pimpinan. Baju kaos biasanya digunakan dalam kondisi tertentu, seperti kegiatan lapangan atau operasional bagi staf teknis di dapur, misalnya bagian memasak atau pengemasan makanan.
Selain itu, kaos dengan logo BGN juga dapat digunakan dalam kegiatan non-formal seperti olahraga atau kegiatan kebersamaan internal lembaga.
Saat dikonfirmasi oleh KabarDuri.net, Andre Marbun belum memberikan tanggapan terkait laporan tersebut. Sementara itu, pimpinan wilayah program di Kabupaten Bengkalis, Firman, juga belum memberikan jawaban ketika dimintai klarifikasi.
Padahal, dalam aturan operasional dapur SPPG, membawa sangkur atau senjata tajam selain peralatan memasak yang diperuntukkan jelas tidak diperbolehkan karena berpotensi melanggar standar operasional prosedur (SOP) keamanan pangan dan keselamatan kerja.
Dapur SPPG sendiri menjalankan operasional dengan prinsip keamanan pangan yang ketat, termasuk menjaga sanitasi, kebersihan, serta memastikan makanan yang diproduksi memenuhi standar higienis dan sertifikasi halal.
Dalam pelaksanaannya, kepala SPPG seharusnya berfokus pada pengawasan proses memasak agar makanan yang disajikan aman dikonsumsi, serta memastikan bahan baku yang digunakan tetap terjaga kualitas dan kebersihannya.*Ramadhan
Dilarang mengambil dan menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin Redaksi.















