RIAU – Foto buram Media Center Riau dalam pemberitaan Resmi pelantikan ribuan PPPK di Stadion Utama Riau seakan berbicara lebih keras daripada isi teks beritanya. Di momen bersejarah yang melibatkan ribuan ASN baru, publik justru disuguhi dokumentasi dengan kualitas rendah—gambar pecah, wajah tak jelas, dan komposisi yang jauh dari kata profesional.
Ironisnya, di tengah gegap gempita acara yang dihadiri Gubernur Riau dan penuh semangat peserta, dokumentasi resmi malah gagal menghadirkan atmosfer kebanggaan itu. Media Center Riau seakan hanya “sekadar hadir” dengan kamera, tanpa berupaya menangkap nilai emosional dan historis dari peristiwa besar tersebut.
Padahal, publik tidak menuntut foto artistik ala fotografer majalah. Yang dibutuhkan hanyalah gambar yang layak, jelas, dan mampu menyampaikan pesan: bahwa pelantikan PPPK adalah momentum kebanggaan daerah.
Namun sayangnya, Media Center justru menyajikan visual yang membuat masyarakat bertanya-tanya, “Benarkah ini hasil kerja lembaga resmi pemerintah Riau ?”

Di era digital, standar publik terhadap kualitas visual semakin tinggi. Warga dengan kamera ponsel pun mampu menghasilkan dokumentasi lebih baik. Ketika hasil dokumentasi resmi kalah jauh dari unggahan masyarakat, maka yang tercoreng bukan sekadar foto, tetapi juga wibawa pemerintah itu sendiri.
Media Center Riau seharusnya sadar: setiap foto yang dipublikasikan bukan hanya dokumentasi, tetapi juga representasi wajah pemerintah. Buramnya foto berarti buram pula citra yang ditampilkan. Pemerintah Provinsi Riau perlu mengevaluasi kinerja lembaga ini, agar ke depan setiap momen penting bisa terekam dengan baik, layak, dan membanggakan.
Momen besar seperti pelantikan ribuan PPPK seharusnya meninggalkan jejak kebanggaan, bukan sekadar jejak foto buram. Jika Media Center Riau terus bekerja dengan standar seadanya, publik akan semakin sulit percaya bahwa komunikasi pemerintah benar-benar dikelola dengan serius.
Dilarang mengambil dan menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin Redaksi.

















