DURI – Komnas Perlindungan Anak (PA) Kabupaten Bengkalis mengingatkan orang tua dan tenaga pendidik agar sejak usia Kelompok Bermain (KB) dan Taman Kanak-Kanak (TK), anak sudah mendapatkan edukasi mengenai bagian tubuh yang boleh dan tidak boleh disentuh oleh orang lain.
Edukasi tersebut dinilai penting sebagai bagian dari upaya pencegahan pelecehan dan kekerasan terhadap anak. Anak juga perlu dibekali keberanian untuk menolak sentuhan yang membuat mereka tidak nyaman serta menyampaikannya kepada orang dewasa yang dipercaya.
Ketua Komnas Perlindungan Anak Bengkalis, Peni Wulandari, menyampaikan hal tersebut saat menghadiri kegiatan Sosialisasi Program TK dan KB Nur Ramadhani. Dalam kegiatan tersebut, Peni didampingi Kepala Sekolah TK Nur Ramadhani, Sri Widoningrum.

Menurut Peni, pendidikan perlindungan diri perlu diberikan sejak anak masih berada pada usia dini. Salah satunya melalui pengenalan anggota tubuh dan batasan pribadi dengan menggunakan bahasa yang sederhana serta mudah dipahami anak.
Selain edukasi mengenai perlindungan diri, Peni juga menekankan pentingnya toilet training bagi anak yang sudah memasuki usia KB dan TK.
“Pada usia Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak, toilet training harus sudah dituntaskan,” ujar Peni.
Toilet training tidak hanya bertujuan membentuk kemandirian anak dalam menggunakan toilet, tetapi juga dapat menjadi momentum bagi orang tua dan guru untuk mengenalkan konsep privasi serta bagian tubuh pribadi kepada anak.
Anak perlu memahami bahwa terdapat bagian tubuh tertentu yang bersifat pribadi dan tidak boleh disentuh sembarang orang.
Anak juga harus mengetahui bahwa dirinya memiliki hak untuk mengatakan tidak apabila mendapatkan sentuhan yang membuatnya merasa tidak nyaman.
Peni juga mendorong agar anak diberikan ruang untuk bercerita kepada guru apabila mengalami kejadian yang tidak menyenangkan.
“Anak juga bisa menyampaikan ke ibu guru sehingga memberikan konsep diri positif bagi anak,” jelasnya.
Menurutnya, keberanian anak untuk berbicara merupakan bagian penting dalam membangun konsep diri yang positif.
Anak tidak hanya diajarkan mengenali tubuhnya, tetapi juga memahami bahwa dirinya berharga dan memiliki hak untuk mendapatkan perlindungan.
Pendidikan tersebut, lanjutnya, membutuhkan keterlibatan bersama antara orang tua, sekolah dan lingkungan sekitar.
Orang tua tidak cukup hanya mengajarkan anak untuk mandiri, tetapi juga perlu membangun komunikasi terbuka agar anak tidak takut bercerita ketika menghadapi sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.
Sementara itu, Kepala Sekolah TK Nur Ramadhani, Sri Widoningrum, turut mendampingi kegiatan sosialisasi program TK dan KB Nur Ramadhani tersebut.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pemahaman orang tua dan tenaga pendidik mengenai pendidikan anak usia dini, termasuk aspek kemandirian, pembentukan karakter serta perlindungan anak.
Dengan edukasi yang diberikan sejak dini, anak diharapkan tumbuh lebih mandiri, percaya diri, mampu mengenali batasan tubuhnya dan berani mencari pertolongan ketika menghadapi situasi yang berpotensi membahayakan dirinya.
Dilarang mengambil dan menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin Redaksi.











