KabarDuri, DURI – Pagi ini, suasana berbeda terasa di halaman sebuah musholla kecil di sudut Desa Sebangar, Kecamatan Bathin Solapan, Kabupaten Bengkalis, Riau.Anak-anak tertawa, orang tua sibuk mempersiapkan alat pemotongan, dan untuk pertama kalinya dalam delapan tahun terakhir, seekor sapi berdiri di bawah naungan tenda sederhana—tanda bahwa hari itu akan dikenang.Minggu,8/06/2025.
Di salah satu RT yang ada Di Desa sebangar yang dihuni lebih dari 80 kepala keluarga ini, Idul Adha kerap berlalu sunyi.
Takbir tetap dikumandangkan, salat berjamaah tetap dilaksanakan, namun tanpa aroma khas masakan daging kurban seperti yang jamak ditemui di pusat-pusat kota Duri dan Bathin solapan.
Musholla yang menjadi tempat ibadah warga, hanya menyimpan harapan—yang tak pernah kunjung sampai.
Ironisnya, hanya beberapa langkah dari pemukiman warga, terbentang pagar panjang milik PT Pertamina Hulu Rokan (PHR)—perusahaan migas besar yang setiap harinya dilintasi kendaraan berat, pekerja, dan aliran kekayaan alam.
Namun, kedekatan fisik tidak sejalan dengan jangkauan perhatian.
Warga mengaku belum pernah mendapatkan bantuan hewan kurban selamat 8 Tahun belakang ini.
Datang Dermawan
Kondisi tersebut kemudian menjadi perhatian tim media Kabarduri.net, bersama dermawan untuk turun langsung ke lokasi, Pada Sabtu pagi (7/6/2025), satu ekor sapi dibeli dan dibawa menuju Musholla di salah Satu RT yang berada di Desa S, Kecamatan Bathin solalapan, yang selama ini nyaris terlupakan oleh Diduga pemerintah daerah Dan Perusahaan PHR.
hari minggu, pemotongan dilakukan di halaman musholla.
Kehadiran Sang Darmawan dan tim Kabarduri disambut penuh rasa syukur. Warga setempat menyebut, ini menjadi titik balik bagi masyarakat yang selama ini merasa diabaikan Oleh Pemerintah Dan Perusahaan.
Sebuah Cermin Pembangunan yang Tak Merata
Kisah dari sudut sunyi Bathin Solapan ini memperlihatkan bahwa pembangunan yang masif tidak selalu menyentuh kehidupan masyarakat secara menyeluruh.
Desa S ini tidak jauh dari pusat ekonomi Duri, namun akses sosial mereka terhadap hak-hak dasar, seperti bantuan keagamaan, sangat minim.
Idul Adha yang sejatinya menjadi simbol berbagi dan keadilan sosial, tampak pincang di wilayah ini.
Ketimpangan terlihat jelas antara wilayah pusat dan pinggiran, antara kawasan industri dan masyarakat kecil di sekitarnya.
Liputan ini menjadi pengingat bahwa dalam perencanaan pembangunan, dan dalam praktik tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), ada nama-nama kecil yang selama ini terlewatkan. Dan sering kali, mereka hanya membutuhkan perhatian kecil untuk merasa dihargai.
Senyuman Warga
usai pembagian daging kurban selesai dilakukan, suara anak-anak kembali terdengar bermain di halaman musholla.
Aroma gulai mulai menyeruak dari dapur-dapur rumah. Hari itu, tak hanya daging yang dibagikan, tapi juga harapan—bahwa mereka tidak dilupakan sepenuhnya.
Dilarang mengambil dan menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin Redaksi.
















