DURI – Teror monyet ekor panjang di Kelurahan Tembilahan Hilir, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, belum berakhir. Seekor primata liar berukuran besar yang berkeliaran di kawasan permukiman telah melukai sedikitnya 14 warga sejak 24 Juli 2026.
Korban berasal dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, orang dewasa, hingga lansia, sehingga memicu keresahan di tengah masyarakat.
Berdasarkan data terbaru, tercatat telah terjadi 15 kali serangan terhadap warga, dengan satu orang menjadi korban sebanyak dua kali, Rabu (5/08/2026).
Akibat serangan tersebut, para korban mengalami luka cakar dan gigitan di sejumlah bagian tubuh, seperti tangan, kaki, hingga punggung. Salah seorang korban bahkan harus menjalani perawatan intensif setelah mengalami luka cukup parah di bagian betis dan mendapatkan 33 jahitan.

Aksi monyet liar itu dilaporkan terjadi di kawasan Jalan Pangeran Hidayat, termasuk Lorong Kubur, Lorong Cempaka, dan Parit 13.
Satwa tersebut tidak hanya menyerang warga yang berada di luar rumah, tetapi juga nekat masuk ke teras hingga menyerang warga yang sedang tidur di dalam kamar.
Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir memastikan seluruh biaya pengobatan para korban, termasuk penyuntikan vaksin rabies, ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah sehingga masyarakat tidak perlu khawatir terhadap biaya perawatan.
Sementara itu, petugas gabungan dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Inhil, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, serta komunitas senapan angin masih terus melakukan upaya penangkapan terhadap primata tersebut.
Namun proses evakuasi tidak berjalan mudah. Monyet diketahui sangat lincah dan kerap berpindah melalui kolong rumah panggung maupun atap bangunan warga sehingga menyulitkan petugas.
Dalam salah satu upaya penangkapan, monyet tersebut sempat terkena tembakan senapan angin hingga meninggalkan ceceran darah. Meski demikian, satwa itu masih berhasil melarikan diri dan belum berhasil diamankan.
Selain menggunakan senapan angin, petugas juga memasang jaring di sejumlah titik yang diduga menjadi jalur perlintasan monyet. Penyisiran turut dilakukan melalui jalur sungai guna mempersempit ruang gerak satwa liar tersebut.
Dilarang mengambil dan menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin Redaksi.













