DURI – Peristiwa Bagansiapiapi Lautan Api menjadi salah satu catatan kelam dalam sejarah Riau pada masa awal kemerdekaan Republik Indonesia.
Konflik bersenjata yang terjadi pada 1946 itu melibatkan pejuang Republik Indonesia dengan kelompok bersenjata dari komunitas Tionghoa yang saat itu dikaitkan dengan milisi Pao An Tui atau Poh An Tui.

Konflik tersebut tidak hanya dipicu persoalan politik dan perebutan pengaruh, tetapi juga diwarnai gesekan identitas nasional serta ketegangan akibat penggunaan simbol dan bendera nasionalis Tiongkok di tengah situasi Indonesia yang baru memproklamasikan kemerdekaan.
Berawal dari Persoalan Bendera
Ketegangan di Bagansiapiapi salah satunya dipicu oleh pengibaran bendera Kuo Min Tang, kelompok nasionalis Tiongkok, tanpa berdampingan dengan bendera Merah Putih.
Sikap tersebut menimbulkan keberatan dari masyarakat setempat yang menginginkan simbol kemerdekaan Indonesia dihormati. Persoalan bendera kemudian berkembang menjadi ketegangan politik dan sosial yang semakin sulit dikendalikan.
Di sisi lain, sebagian masyarakat Tionghoa di Bagansiapiapi pada masa itu memiliki pandangan bahwa mereka merupakan bagian dari kelompok yang berada di pihak Sekutu yang memenangkan Perang Dunia II.
Situasi tersebut turut memunculkan ambisi sebagian kelompok untuk mendapatkan pengaruh lebih besar terhadap pemerintahan dan keamanan wilayah.
Konflik Berkembang Menjadi Pertempuran
Ketegangan yang awalnya berkaitan dengan simbol dan kekuasaan kemudian berkembang menjadi konflik bersenjata.
Pao An Tui disebut menjadi salah satu kelompok yang memiliki peran dalam eskalasi konflik. Dukungan jaringan dari luar daerah, termasuk pasokan logistik dan persenjataan, membuat ketegangan semakin meningkat.
Rangkaian bentrokan berlangsung sepanjang 1946, dengan puncak konflik yang menyebabkan pertempuran sengit di berbagai kawasan Bagansiapiapi. Pejuang Republik Indonesia berhadapan dengan kelompok bersenjata dalam situasi keamanan yang semakin tidak terkendali.
Bagansiapiapi Dijuluki “Lautan Api”
Pertempuran dan aksi saling serang menyebabkan sejumlah kawasan permukiman dan pusat kota mengalami kerusakan serta kebakaran.
Kondisi tersebut kemudian melahirkan sebutan “Bagansiapiapi Lautan Api”, yang menggambarkan dahsyatnya kehancuran dan kebakaran yang terjadi di tengah konflik.
Peristiwa itu meninggalkan trauma mendalam bagi masyarakat Bagansiapiapi. Rumah dan fasilitas masyarakat rusak, sementara aktivitas kehidupan warga terganggu akibat situasi keamanan yang berlangsung berbulan-bulan.
Ribuan Korban dan Luka Sejarah
Konflik Bagansiapiapi 1946 juga meninggalkan korban jiwa dalam jumlah besar. Sejumlah catatan sejarah menyebut korban berasal dari berbagai kelompok masyarakat yang terlibat maupun terdampak konflik.
Namun, angka korban secara pasti masih menjadi bagian dari perdebatan dan kajian sejarah karena sumber-sumber mengenai peristiwa tersebut memiliki perbedaan pencatatan.
Konflik akhirnya berangsur mereda seiring semakin kuatnya konsolidasi pemerintahan dan kekuatan militer Republik Indonesia.
Peristiwa Bagansiapiapi Lautan Api kini menjadi bagian penting dari sejarah di Riau. Di balik kisah pertempuran dan kehancuran tersebut terdapat pelajaran mengenai rapuhnya kondisi sosial-politik pada masa awal kemerdekaan serta pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman masyarakat.
Sejarah kelam tersebut juga menjadi pengingat bahwa masa revolusi kemerdekaan tidak hanya diwarnai perjuangan melawan kekuatan asing, tetapi juga menghadapi berbagai konflik internal yang meninggalkan luka panjang bagi masyarakat.
Dilarang mengambil dan menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin Redaksi.










