DURI – Putri asal Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau, Sumaya, berhasil naik podium Asian Games di Nagoya, Jepang, setelah mempersembahkan medali perak untuk Indonesia dari cabang olahraga teqball, Senin (21/09/2026).
Prestasi tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi Kabupaten Bengkalis, khususnya keluarga Sumaya yang berada di Rupat.
Perjalanan Sumaya menuju podium Asian Games juga menyimpan cerita menarik. Ia justru menemukan jalan menuju prestasi internasional setelah gagal menembus seleksi sepak takraw.
Sumaya sebelumnya bercita-cita mengikuti jejak kedua orangtuanya di cabang sepak takraw.
Sang ayah, Safrudin, merupakan pelatih sepak takraw, sedangkan ibunya, Khairani, adalah mantan pemain sepak takraw yang pernah memperkuat tim nasional Indonesia.
Sejak kecil, Sumaya sudah akrab dengan dunia olahraga. Kedua orangtuanya memberikan tempaan dalam hal teknik, disiplin, mental bertanding hingga motivasi untuk terus berjuang.
Keinginan Sumaya untuk mengikuti jejak orangtuanya di sepak takraw semakin kuat. Ia ingin berprestasi sekaligus memberikan kontribusi bagi Indonesia.
Namun, perjalanan tersebut tidak langsung berjalan sesuai harapan. Pada 2024, Sumaya mengikuti seleksi sepak takraw di Sumatera Utara. Namanya belum masuk dalam daftar atlet yang diharapkan sehingga kesempatan untuk memperkuat tim nasional melalui cabang tersebut belum terbuka.
Kegagalan itu ternyata menjadi awal dari perjalanan baru.Sumaya kemudian berkenalan dengan teqball, olahraga yang sebelumnya masih asing baginya. Ia melihat cabang tersebut sebagai kesempatan baru dan memutuskan untuk mencobanya.
Ia mengikuti pelatihan di Riau. Melalui berbagai latihan, uji coba, pertandingan dan ekshibisi, kemampuan Sumaya mulai berkembang. Perlahan, namanya mulai diperhitungkan di tingkat nasional.

“Tuhan sepertinya memberikan jalan yang lain,” ungkap Sumaya.
Lima Kemenangan Antar Sumaya ke Final
Kesempatan tampil di Asian Games akhirnya datang. Sumaya berlaga di Nagoya City Higashi Sports Center, Jepang.
Perjalanannya dimulai dengan kemenangan 2-0 atas Lebanon. Pada pertandingan berikutnya, Sumaya kembali tampil meyakinkan dan menang 2-0 atas Myanmar.
Pertandingan ketiga menghadapi Kirgistan berlangsung lebih ketat. Sumaya harus bermain hingga tiga gim sebelum akhirnya mengamankan kemenangan 2-1.
Ia kemudian melanjutkan langkah dengan kemenangan 2-0 atas Kamboja.Hasil tersebut membawa Sumaya ke semifinal.

Di babak empat besar, Sumaya menghadapi India. Pertandingan kembali berlangsung ketat, tetapi ia mampu mengamankan kemenangan 2-1 dan memastikan tiket ke partai final.
Final kemudian mempertemukan Sumaya dengan Myanmar.
Pertandingan berlangsung sengit. Kali ini Sumaya harus mengakui keunggulan lawannya setelah kalah 1-2.
Meski gagal meraih emas, Sumaya berhasil membawa pulang medali perak sekaligus mempersembahkan prestasi bagi Indonesia.
Bagi Sumaya, salah satu kunci menghadapi pertandingan adalah tidak memberikan tekanan berlebihan kepada diri sendiri.
“Percaya diri saja, tidak ada mikir-mikir yang berat. Enjoy saja,” kata Sumaya, Senin (21/9/2026).
Latihan di Surabaya dan Jakarta
Medali perak Asian Games tersebut tidak diraih dengan persiapan singkat.Sebelum bertolak ke Jepang, Sumaya menjalani latihan sekitar satu setengah bulan di Surabaya. Persiapan kemudian dilanjutkan selama satu pekan di Jakarta, tepatnya di kawasan Blok S.
Setelah menjalani seluruh rangkaian persiapan tersebut, Sumaya bertolak ke Jepang untuk menghadapi persaingan Asian Games.
Enam pertandingan dijalani Sumaya hingga partai final. Lima kemenangan berhasil diraih sebelum akhirnya ia harus puas dengan medali perak.
Perjuangan Sumaya di partai final juga mendapat perhatian langsung dari Menteri BUMN Erick Thohir yang hadir menyaksikan pertandingan menghadapi Myanmar.
Usai pertandingan, Erick Thohir menyampaikan ucapan terima kasih atas perjuangan Sumaya membawa nama Indonesia serta raihan medali perak tersebut.
Apresiasi itu menjadi tambahan motivasi bagi Sumaya setelah menyelesaikan perjuangannya di Asian Games.
Kebanggaan Orangtua di Rupat Kabupaten Bengkalis
Di Rupat, Kabupaten Bengkalis, keberhasilan Sumaya menjadi kebanggaan tersendiri bagi kedua orangtuanya.Sejak awal, keluarga menjadi bagian penting dalam perjalanan Sumaya sebagai atlet. Lingkungan olahraga yang dibangun kedua orangtuanya sejak kecil turut membentuk kedisiplinan dan mental bertanding yang dimilikinya.
Kini, medali perak Asian Games menjadi pencapaian penting dalam perjalanan karier Sumaya.Menariknya, prestasi tersebut lahir dari keputusan untuk mencoba cabang olahraga baru setelah mengalami kegagalan di sepak takraw.
Dari olahraga yang sudah akrab sejak kecil, Sumaya beralih ke teqball yang sebelumnya tidak dikenalnya. Pilihan itu kemudian membawanya dari Riau ke panggung nasional hingga akhirnya tampil di Asian Games Nagoya.
Sumaya saat ini masih berada di Jepang sembari mempersiapkan kepulangannya ke Indonesia.
Ia pun menyampaikan pesan kepada anak-anak muda yang sedang mengejar impian agar tidak takut mencoba sesuatu yang baru.
“Jangan takut mencoba hal baru. Terus berjuang dengan sungguh-sungguh, fokus pada satu tujuan dan berikan yang terbaik.”
Perjalanan Sumaya dari Rupat, Bengkalis, hingga podium Asian Games menunjukkan bahwa satu kegagalan tidak selalu menjadi akhir. Bagi Sumaya, kegagalan dalam seleksi sepak takraw justru membuka jalan menuju kesempatan baru yang akhirnya mengantarkannya mempersembahkan medali perak bagi Indonesia.
Dilarang mengambil dan menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin Redaksi.












