DURI – Kabupaten Bengkalis, Riau, menyimpan jejak panjang sejarah kolonial Belanda. Letaknya yang strategis di jalur perdagangan Selat Malaka membuat wilayah yang dikenal sebagai Negeri Junjungan ini memiliki posisi penting dalam aktivitas perdagangan, pemerintahan, hingga komunikasi pada masa Hindia Belanda.
Pada masa kolonial, Bengkalis dikembangkan sebagai salah satu pusat administrasi sekaligus jalur lalu lintas niaga yang strategis. Sejumlah bangunan dan situs peninggalan masa tersebut hingga kini masih dapat dijumpai di Pulau Bengkalis.
Peninggalan tersebut bukan hanya berupa bangunan tua, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah perkembangan pemerintahan, perdagangan, telekomunikasi, dan kehidupan sosial masyarakat Bengkalis pada masa lalu.
jejak peninggalan kolonial Belanda yang masih dapat ditemukan di Bengkalis.
1. Penjara Lama Bengkalis atau Huis Van Bewaring
Salah satu peninggalan kolonial yang paling dikenal masyarakat Bengkalis adalah Penjara Lama Bengkalis atau Huis Van Bewaring.
Bangunan yang berada di Jalan Pahlawan, Kota Bengkalis, tersebut didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Sejumlah sumber mencatat perbedaan mengenai tahun pembangunannya, antara sekitar 1810 hingga 1883.
Pada masa kolonial, bangunan ini digunakan sebagai tempat penahanan, termasuk terhadap sejumlah tokoh masyarakat, bangsawan, dan pejuang yang dianggap menentang kekuasaan Belanda.
Masyarakat setempat juga mengenalnya dengan sebutan “Jell Belanda” atau “Rumah Orang Rantai”.
Bangunan dengan karakter arsitektur Eropa tersebut menjadi salah satu saksi perjalanan sejarah Bengkalis. Pada November 2025, bangunan ini ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya.
Kini, kawasan penjara lama tersebut tidak hanya dipandang sebagai bangunan bersejarah, tetapi juga kerap dimanfaatkan dalam kegiatan seni dan budaya untuk menghidupkan kembali nilai sejarahnya.
2. Situs Rumah Kabel
Jejak modernisasi pada masa Hindia Belanda juga terlihat dari keberadaan Situs Rumah Kabel di Jalan Kelapapati Laut, Bengkalis.
Bangunan ini berkaitan dengan pembangunan jaringan telekomunikasi kabel bawah laut. Pembangunannya disebut dimulai pada 1915 dan diresmikan pada 1917 dengan biaya mencapai lebih dari 400.000 Gulden.
Rumah Kabel menjadi bagian penting dari pengoperasian jaringan telegraf kabel bawah laut yang menghubungkan Bengkalis dengan sejumlah wilayah, termasuk Bagan Siapi-api hingga Tanjung Balai Asahan.
Jaringan tersebut memiliki peran penting dalam komunikasi dan pemantauan lalu lintas kapal di kawasan Selat Malaka yang saat itu menjadi salah satu jalur perdagangan internasional.
Lokasinya berada di belakang SDN 14 Bengkalis dan menghadap langsung ke Selat Bengkalis.
Meski bagian dalam bangunan kini sudah kosong dan sejumlah material disebut telah hilang akibat penjarahan pada masa lalu, sisa struktur dinding beton berukuran sekitar 5 x 5 meter serta sumur tua masih dapat ditemukan.
Situs tersebut menjadi pengingat bahwa Bengkalis pernah menjadi bagian dari jaringan komunikasi modern yang dibangun pemerintah kolonial di kawasan Selat Malaka.
3. Rumah Tuan Kapiten
Peninggalan lainnya adalah Rumah Tuan Kapiten yang berada di Pulau Bengkalis.Bangunan ini disebut selesai dibangun pada 1828 dan memiliki keterkaitan erat dengan sistem pemerintahan kolonial Belanda terhadap komunitas Tionghoa.
Pada masa tersebut, “Kapiten” merupakan pemimpin komunitas Tionghoa yang ditunjuk oleh pemerintah Hindia Belanda. Ia memiliki peran dalam mengatur berbagai urusan administratif dan kemasyarakatan komunitasnya.

Rumah Tuan Kapiten kemudian menjadi salah satu gambaran mengenai sistem tata kelola sosial yang diterapkan pemerintah kolonial.
Dari sisi arsitektur, bangunan tersebut juga memperlihatkan adanya pertemuan unsur budaya lokal, Tionghoa, dan Eropa yang berkembang di Bengkalis pada masa lalu.
4. Rumah Tuan Bengkel
Jejak kolonial lainnya terdapat di kawasan tepi Sungai Bengkalis, tepatnya di Jalan Ahmad Yani.
Kawasan tersebut pada masa lalu disebut digunakan sebagai pusat perbengkelan untuk kebutuhan militer dan sipil. Bengkel tersebut digunakan untuk memperbaiki kapal maupun berbagai peralatan yang berkaitan dengan kepentingan pemerintahan kolonial.
Di kawasan itu terdapat sebuah rumah yang dibangun sebagai tempat tinggal pejabat yang bertugas mengawasi kegiatan perbengkelan tersebut.Masyarakat kemudian mengenalnya dengan sebutan “Tuan Bengkel”.
Bangunan tersebut hingga kini masih bertahan dan dirawat. Rumah itu juga ditempati oleh keturunan pemilik tanah yang memiliki hubungan keluarga dengan cucu Datuk Laksamana, salah satu tokoh sejarah lokal.
Menjaga Jejak Sejarah Bengkalis
Keberadaan bangunan-bangunan tersebut menunjukkan bahwa sejarah Bengkalis tidak hanya tersimpan dalam catatan tertulis, tetapi juga dapat ditelusuri melalui bangunan dan situs yang masih bertahan.
Penjara Lama Bengkalis menggambarkan sisi kelam sistem penahanan kolonial. Rumah Kabel memperlihatkan perkembangan teknologi komunikasi. Rumah Tuan Kapiten merekam sistem pemerintahan komunitas pada masa Hindia Belanda, sedangkan Rumah Tuan Bengkel menunjukkan aktivitas perbengkelan yang berkaitan dengan kepentingan militer dan sipil.
Di tengah perkembangan Kota Bengkalis, keberadaan situs-situs tersebut menjadi bagian penting dari identitas sejarah daerah.
Pelestarian tidak hanya diperlukan untuk mempertahankan bangunan fisiknya, tetapi juga untuk memastikan generasi berikutnya memahami cerita, fungsi, dan konteks sejarah yang melekat pada setiap peninggalan.
Dengan demikian, jejak kolonial di Bengkalis tidak berhenti sebagai bangunan tua, melainkan menjadi sumber pembelajaran tentang perjalanan panjang Negeri Junjungan hingga menjadi daerah seperti sekarang.
Dilarang mengambil dan menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin Redaksi.











