DURI – Menjelang Hari Raya Idul fitri, masyarakat di berbagai daerah Provinsi Riau kembali menghidupkan beragam tradisi khas Melayu yang sarat makna religius dan nilai kebersamaan, Jum’at (27/02/2026).
Tradisi-tradisi ini telah diwariskan turun-temurun dan menjadi identitas budaya yang tetap terjaga di tengah modernisasi.
Dari pesisir hingga daerah daratan, suasana Lebaran di Riau tidak hanya ditandai dengan salat Id dan silaturahmi keluarga, tetapi juga ritual budaya yang menyatukan masyarakat dalam nuansa keislaman dan kekeluargaan.
Festival Lampu Colok, Cahaya Tradisi di Malam Tujuh Likur
Salah satu tradisi paling ikonik di Riau adalah Festival Lampu Colok atau Malam Tujuh Likur yang meriah di Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Kepulauan Meranti. Pada malam ke-27 Ramadan, ribuan lampu minyak dinyalakan dan disusun menjadi miniatur masjid, kaligrafi lafaz Allah, hingga bentuk ayat Al-Qur’an setinggi belasan meter.

Awalnya, lampu colok berfungsi sebagai penerang jalan bagi warga yang hendak membayar zakat fitrah ke masjid. Kini, tradisi tersebut berkembang menjadi festival budaya dan wisata tahunan yang dilombakan antar desa, sekaligus menarik perhatian wisatawan dari berbagai daerah.
Baraan, Silaturahmi Massal yang Hangat
Tradisi Baraan juga masih lestari di wilayah Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Kepulauan Meranti. Setelah salat Idulfitri atau selama bulan Syawal, rombongan warga berkeliling dari rumah ke rumah di dusun tanpa ada yang terlewat.
Setiap rumah yang dikunjungi menyediakan hidangan Lebaran, sementara warga membaca doa bersama dan saling bermaafan. Tradisi ini menjadi simbol kuatnya solidaritas sosial masyarakat Melayu Riau.
Lebaran Enam di Kampar
Di wilayah Bangkinang, Kabupaten Kampar, masyarakat merayakan Lebaran Enam atau Hari Raya Enam tepat seminggu setelah Idulfitri. Tradisi ini dilaksanakan setelah umat Muslim menuntaskan puasa sunah enam hari di bulan Syawal.
Perayaan Lebaran Enam seringkali lebih meriah daripada hari raya pertama. Warga melakukan ziarah kubur massal, doa bersama, dan makan bersama di area pemakaman atau masjid sebagai simbol kemenangan spiritual.
Petang Megang dan Mandi Balimau
Tradisi Petang Megang atau Mandi Balimau menjadi pembuka rangkaian persiapan Ramadan yang kemudian berlanjut hingga Lebaran. Tradisi ini biasanya digelar di tepian Sungai Siak di Kota Pekanbaru atau di Sungai Kampar.
Masyarakat mandi bersama menggunakan air bercampur jeruk limau dan bunga-bungaan sebagai simbol penyucian diri lahir dan batin sebelum memasuki bulan suci.
Salat Id di Tepian Sungai
Tradisi unik lainnya dapat ditemui di wilayah Kabupaten Kuantan Singingi. Jika cuaca mendukung, warga melaksanakan salat Idulfitri di hamparan pasir atau tepian sungai seperti Sungai Kuantan.
Momen ini menjadi sangat emosional bagi para perantau yang pulang kampung, karena salat Id di alam terbuka menghadirkan nuansa kebersamaan dan kekhusyukan yang berbeda.
Tradisi-tradisi Lebaran di Riau tidak hanya menjadi simbol kegembiraan menyambut Idulfitri, tetapi juga bukti kuatnya identitas Melayu yang berpadu dengan nilai-nilai Islam. Pemerintah daerah dan masyarakat setempat terus berupaya menjaga tradisi ini melalui festival, lomba, hingga promosi wisata budaya.
Di tengah arus modernisasi, tradisi Lampu Colok, Baraan, Lebaran Enam, hingga Mandi Balimau tetap menjadi pengikat kebersamaan masyarakat Riau
menjadikan Idulfitri bukan sekadar hari raya, tetapi juga momentum mempererat persaudaraan dan menjaga warisan leluhur.
Dilarang mengambil dan menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin Redaksi.
















