OPINI – KabarDuri — Mana ada maling mau ngaku. Dimana-mana umumnya maling ya nggak mau ngaku. Menepis tuduhan, mengingkari kenyataan, menolak anggapan, sudah lumrah menjadi pakaian maling.
Mulai dari maling jemuran sampai maling kendaraan. Kecuali maling hati. Tidak hanya ngaku, tapi malah menyatakan untuk mencuri hati. Hehe, jadi inget lagu Romo Ono Maling – nya Mus Mulyadi jaman baheula dulu.
Gimana ya ? Kalo dipikir-pikir memang pengakuan itu menakutkan. Banyak resiko dari akibat pengakuan.
Punya pasangan selingkuh tapi ngaku ? Waw, bisa ditebak akibatnya. Mending tidak terjadi perang UFO alias piring terbang di dalam rumah.

Bahkan yang sudah jelas ketahuan pun masih juga ingkar : mana ada maling ngaku. Lho ? Berarti selingkuh itu bersifat maling alias pencuri ya ? Kan sama-sama takut ngaku . . . He he he.
Karena itu diperlukan pengacara atau pembela hukum untuk penjahat-penjahat yang tertangkap.
Tujuan pengacara untuk membela hak-hak terdakwa saat menghadapi tuntutan jaksa. Mungkin begitu, ahli hukum yang lebih tahu.
Pengakuan, memang terasa perih jika dilaksanakan. Tentunya terutama untuk yang memang melakukan kesalahan. Sebisa mungkin membantah, mengelak, menepis, atau bahkan mengandalkan kata sakti: “itu fitnah”.
Setelah itu semuanya menjadi kabur, buram, temaram.
Muak disuguhi kemunafikan. Memangnya ada makanan yang bernama “kemunafikan” ? *Ramadhan
Dilarang mengambil dan menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin Redaksi.

















