OPINI – Mencari makan adalah naluri dasar manusia. Namun ketika naluri itu berubah menjadi pembenaran untuk merampas hak orang lain, maka yang terjadi bukan lagi perjuangan hidup, melainkan pembusukan moral.
Fenomena mengambil foto tanpa izin, mencomot data seenaknya, hingga menjatuhkan nama orang lain kini semakin terang-terangan dipertontonkan—tanpa rasa malu, tanpa etika.
Di era digital hari ini, karya bukan lagi sekadar hasil jepretan kamera atau rangkaian kata. Ia adalah waktu, tenaga, biaya.

Namun ironisnya, masih ada Oknum-oknum yang dengan santai mengambil foto orang lain, menghapus watermark, mengganti narasi, lalu mengklaim seolah itu hasil jerih payah sendiri. Lebih parah lagi, semua itu dilakukan demi keuntungan pribadi: klik, popularitas, bahkan uang.
Perilaku ini bukan kesalahan teknis, melainkan kesengajaan. Mengambil foto tanpa izin bukan kelalaian, tetapi perampokan hak cipta.
Menggunakan data orang lain tanpa sumber bukan keteledoran, melainkan pencurian intelektual. Dan menjatuhkan pihak lain demi mengangkat diri sendiri adalah bentuk paling murah dari ambisi.
Yang membuat miris, pelaku sering kali berlindung di balik dalih “sekadar berbagi”, “informasi publik”, atau “sama-sama cari makan”. Dalih ini rapuh dan menyesatkan.
Mencari rezeki tidak pernah memberi izin untuk menginjak martabat orang lain. Tidak ada ajaran moral, hukum, maupun budaya yang membenarkan pencurian karya, apalagi dilakukan tanpa rasa bersalah.
Dalam dunia Jurnlistik, etika adalah pagar. Tanpa etika, yang tersisa hanyalah rimba digital—siapa kuat dia menang, siapa lengah dia dijarah.
Jika praktik seperti ini terus dibiarkan, maka yang hancur bukan hanya individu yang dirugikan, tetapi juga ekosistem informasi secara keseluruhan.
Publik disuguhi konten palsu, sumber tak jelas, dan karya hasil jarahan.
Lebih menyedihkan lagi, ada kebanggaan palsu yang dipertontonkan. Hasil curian dipamerkan, like dan komentar dirayakan, seolah semua itu lahir dari kerja keras.
Padahal di baliknya ada keringat orang lain yang dirampas, ada hak cipta yang diinjak, dan ada etika yang dikubur hidup-hidup.
Sudah saatnya publik bersuara dan pelaku berhenti berpura-pura. Mengambil foto tanpa izin adalah tindakan memalukan.
Mencomot data tanpa sumber adalah aib intelektual. Dan menjatuhkan orang lain demi keuntungan pribadi adalah cermin dari ketidakmampuan berkarya secara jujur.
Rezeki yang baik lahir dari cara yang bermartabat. Jika untuk hidup harus mencuri karya orang lain, mengambil foto tanpa rasa malu, dan merusak nama pihak lain, maka persoalannya bukan soal ekonomi—melainkan krisis karakter.
Mencari makanan adalah hal yang wajar.
Tetapi mencuri, merampok, dan menjatuhkan orang lain demi makanan—itu adalah perbuatan yang tercela.
Dilarang mengambil dan menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin Redaksi.

















