DURI – Pernyataan seorang oknum humas yang menyebut media “terlalu maju” dalam sebuah percakapan di grup WhatsApp di Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis memunculkan pertanyaan besar: apakah humas benar-benar memahami perannya dalam komunikasi publik?
Dalam dunia informasi saat ini, kecepatan menjadi salah satu kunci utama. Media dituntut bergerak cepat untuk memperoleh informasi, mengumpulkan data, serta melakukan konfirmasi kepada berbagai pihak sebelum sebuah berita dipublikasikan.
Hal ini bukan tanpa alasan, karena masyarakat memiliki hak untuk mengetahui setiap peristiwa yang terjadi di sekitarnya.

Karena itu, ketika ada informasi mengenai suatu peristiwa, seperti penangkapan oleh aparat penegak hukum, wajar jika wartawan langsung bergerak mencari fakta di lapangan. Wartawan tidak hanya menunggu rilis resmi dari humas.
Mereka memiliki jaringan sumber, narasumber, serta metode kerja jurnalistik yang memungkinkan informasi diperoleh dari berbagai jalur.
Di sinilah pentingnya seorang humas memahami tugasnya. Humas bukanlah pihak yang menentukan kapan media boleh bergerak atau kapan wartawan harus menunggu.
Tugas utama humas adalah menjadi jembatan komunikasi antara lembaga dan publik, termasuk media.
Seorang humas seharusnya mampu membangun hubungan yang baik dengan wartawan, memberikan penjelasan yang jelas, serta memastikan informasi resmi dapat disampaikan dengan baik kepada masyarakat.
Jika memang ada informasi yang belum dapat dipublikasikan, humas bisa menyampaikannya dengan cara yang profesional dan diplomatis.
Menggunakan istilah yang terkesan menyindir atau menilai kerja media justru berpotensi merusak hubungan yang selama ini telah terbangun.
Padahal, hubungan antara humas dan media seharusnya bersifat kemitraan, bukan saling menilai siapa yang lebih berhak atas informasi.
Media memiliki tanggung jawab kepada publik, bukan kepada lembaga tertentu. Selama informasi yang disampaikan telah melalui proses verifikasi dan konfirmasi, maka itu adalah bagian dari kerja jurnalistik yang sah.
Karena itu, penting bagi setiap humas untuk memahami bahwa media bukanlah pihak yang harus “dikendalikan”, melainkan mitra dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.
Pada akhirnya, komunikasi yang baik antara humas dan media akan menghasilkan satu hal yang sama: informasi yang akurat, cepat, dan bermanfaat bagi publik.
Tanpa saling memahami peran masing-masing, konflik kecil seperti ini akan terus muncul dan justru mengganggu tujuan utama dari komunikasi publik itu sendiri.
Dilarang mengambil dan menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin Redaksi.

















