DURI – Momen Hari Raya Idul adha identik dengan pembagian daging kurban kepada masyarakat. Namun di balik tradisi tahunan tersebut, masih banyak warga yang tanpa sadar melakukan kesalahan dalam penanganan daging kurban hingga menyebabkan daging cepat busuk, berubah warna, berbau, bahkan berisiko memicu pertumbuhan bakteri berbahaya.
Kesalahan sederhana seperti langsung mencuci daging, membiarkannya terlalu lama di suhu ruang, hingga mencampur daging dan jeroan dalam satu kantong ternyata menjadi penyebab utama kualitas daging cepat menurun. Kondisi ini pun mendapat perhatian serius dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Provinsi Riau.
Kepala Dinas PKH Riau, Mimi Yuliani Nazir mengingatkan masyarakat agar lebih memahami cara penanganan daging kurban yang benar supaya tetap aman dikonsumsi dan tahan lebih lama selama penyimpanan.

“Banyak masyarakat yang masih salah dalam menangani daging kurban. Ada yang langsung dicuci sebelum disimpan, ada juga yang dibiarkan terlalu lama di luar kulkas. Padahal hal seperti itu bisa mempercepat pertumbuhan bakteri,” ujar Mimi Yuliani Nazir, Kamis (28/5/2026).
Menurutnya, daging mentah sebenarnya tidak disarankan langsung dicuci sebelum disimpan, kecuali dalam kondisi benar-benar kotor. Air yang menempel di permukaan daging justru dapat mempercepat proses pembusukan apabila penyimpanan tidak dilakukan dengan benar.
Ia menjelaskan, setelah daging diterima masyarakat, proses penyimpanan harus segera dilakukan maksimal dua jam agar kualitas daging tetap terjaga.
Jika terlalu lama berada di suhu ruang, bakteri akan lebih cepat berkembang terutama pada cuaca panas.
“Kalau memang belum mau dimasak, langsung simpan di kulkas atau freezer. Jangan dibiarkan seharian di meja dapur atau di dalam kendaraan,” katanya.
Untuk penyimpanan jangka panjang, Dinas PKH Riau menyarankan suhu freezer berada di bawah minus 18 derajat Celsius agar tekstur, warna, dan kualitas gizi daging tetap stabil.
Selain itu, kesalahan lain yang masih sering ditemukan di masyarakat adalah mencampur daging dan jeroan dalam satu kemasan. Padahal jeroan memiliki daya tahan lebih rendah dibandingkan daging biasa sehingga lebih cepat rusak dan berpotensi menyebabkan kontaminasi silang.
“Jeroan itu lebih cepat rusak. Jadi sebaiknya dipisahkan dari daging agar tidak mempengaruhi kualitas daging lainnya,” jelas Mimi.
Dalam proses pengemasan, masyarakat juga diimbau menggunakan wadah atau plastik yang aman untuk makanan atau food grade. Penggunaan wadah bersih seperti besek berlapis daun pisang juga dinilai lebih baik untuk menjaga kualitas daging kurban.
Tak hanya itu, Dinas PKH Riau turut mengingatkan masyarakat agar membagi daging sesuai porsi sekali masak sebelum dimasukkan ke freezer. Cara tersebut bertujuan agar masyarakat tidak perlu berulang kali mencairkan seluruh stok daging saat akan digunakan.
Menurut Mimi, proses pembekuan dan pencairan berulang dapat membuat kualitas daging cepat menurun, baik dari segi tekstur maupun rasa.
“Kalau daging sering keluar masuk freezer, kualitasnya pasti lebih cepat rusak. Jadi sebaiknya dipisahkan per porsi sejak awal,” terangnya.
Dinas PKH Riau juga meminta masyarakat memperhatikan kebersihan selama proses pengemasan dan pengolahan daging kurban.
Mulai dari mencuci tangan, membersihkan peralatan, hingga menjaga area pengemasan tetap higienis agar daging tetap sehat dan aman dikonsumsi keluarga.
Melalui edukasi tersebut, pemerintah berharap masyarakat semakin sadar pentingnya keamanan pangan saat Iduladha sehingga pembagian daging kurban tidak hanya membawa berkah, tetapi juga tetap terjaga kualitas dan kesehatannya.
Dilarang mengambil dan menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin Redaksi.















