RIAU – Polda Riau resmi meluncurkan program pembangunan Jembatan Merah Putih Presisi dengan tema “Menjembatani Peradaban, Menggapai Harapan”. Program ini menargetkan pembangunan dan renovasi 26 jembatan di berbagai desa terpencil di Provinsi Riau, Rabu (28/01/2026).
Peluncuran program tersebut dipimpin langsung oleh Wakapolda Riau Brigjen Pol Hengky dan digelar di Media Center Polda Riau, Selasa (27/1). Dari total 26 jembatan, 17 jembatan akan dibangun baru sementara 9 jembatan lainnya akan direnovasi.
Brigjen Hengky menjelaskan, program ini bertujuan membuka akses vital masyarakat, terutama untuk mendukung kelancaran pendidikan, perekonomian, serta meningkatkan keselamatan warga.
“Jembatan bukan sekadar penghubung wilayah. Jika akses ini terputus, maka aktivitas masyarakat juga terganggu, mulai dari sekolah, ekonomi, hingga kegiatan ibadah,” ujar Hengky.

Ia menegaskan, program ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden RI dan perintah Kapolri agar Polri hadir langsung membantu mengatasi persoalan infrastruktur dasar masyarakat.
Menurutnya, penentuan lokasi 26 jembatan tersebut dilakukan melalui kerja tim khusus yang melakukan verifikasi dan asesmen di lapangan. Seluruh pembangunan dipastikan berdasarkan kebutuhan riil dan aspirasi masyarakat.
“Total panjang jembatan yang akan dibangun dan direnovasi mencapai sekitar 700 meter. Prosesnya kita lakukan bersama masyarakat, mulai dari perencanaan hingga perawatannya nanti,” jelasnya.
Hengky mencontohkan kondisi warga di Dusun Sumut, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Kepulauan Meranti, di mana anak-anak harus menyeberangi sungai yang sering dilintasi buaya untuk pergi ke sekolah. Situasi serupa juga ditemukan di beberapa daerah lain di Riau dan sangat membahayakan keselamatan.
Selain pembangunan jembatan, Polda Riau juga akan melakukan renovasi SD Negeri 020 di Indragiri Hilir yang selama ini kondisinya memprihatinkan dan menjadi satu-satunya akses pendidikan bagi warga setempat.
Pembangunan Jembatan Merah Putih Presisi ini melibatkan kolaborasi antara Polri, pemerintah daerah, masyarakat, akademisi, pelaku usaha, serta media. Seluruh pekerjaan ditargetkan rampung dalam waktu sekitar satu bulan.
“Ini adalah operasi kemanusiaan. Negara harus hadir memastikan masyarakat bisa hidup, belajar, dan beraktivitas dengan aman,” tegas Hengky.
Sementara itu, Dansat Brimob Polda Riau Kombes Pol I Ketut Gede Adi Wibawa menjelaskan bahwa 26 jembatan tersebut tersebar di seluruh kabupaten dan kota di Riau. Wilayah Indragiri Hulu menjadi daerah terbanyak dengan empat jembatan.
“Di Kampar ada dua jembatan, Rokan Hulu dua, Rokan Hilir tiga, Indragiri Hilir dua, Siak dua, Pelalawan dua, Dumai satu, Kuantan Singingi dua, Kepulauan Meranti tiga, Polresta Pekanbaru satu, dan Bengkalis dua. Total seluruhnya 26 jembatan,” paparnya.
Karo Ops Polda Riau Kombes Pol Ino Harianto menambahkan, salah satu jembatan paling mendesak berada di Kecamatan Tanah Merah, Kabupaten Indragiri Hilir, dengan panjang mencapai 608 meter. Selama ini, anak-anak sekolah harus menggunakan perahu kecil yang sangat berisiko.
“Jembatan ini adalah urat nadi masyarakat. Karena volumenya besar, pembangunannya akan melibatkan personel Polri bersama warga secara gotong royong,” ungkap Ino.*Ramadhan
Dilarang mengambil dan menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin Redaksi.

















