“Bukan panggilan kerja, melainkan permintaan: “Mana uangmu?”
KabarDuri, OPINI – Di sebuah kota yang lahir dari gemuruh mesin dan kilau minyak, harapan seharusnya tumbuh bersamaan dengan pembangunan. Kota itu bernama Duri—tempat di mana energi memancar dari perut bumi, dan seharusnya juga dari semangat warganya. Tapi tak semua cahaya membawa kehangatan.

Di banyak sudut kota, harapan justru terpanggang di bawah panas sistem yang tak berpihak.Ada luka yang tak terlihat, tapi terasa. Ia menancap pelan, seperti duri di telapak kaki sendiri. Luka itu bernama ketidakadilan.Anak-anak Duri tumbuh di antara sumur minyak dan bau solar.
Mereka mengenal suara alat berat lebih dulu daripada nyanyian alam. Mereka besar dengan cerita bahwa tanah mereka kaya, tapi saat mereka mengetuk pintu kesempatan, yang menyambut bukan panggilan kerja, melainkan permintaan: “Mana uangmu?”

Begitu banyak yang bertanya dalam hati: bagaimana mungkin sebuah kota yang disebut kota energi, malah menguras tenaga rakyatnya tanpa memberi ruang layak untuk tumbuh? Bagaimana bisa anak kandung kota ini merasa seperti pendatang di rumah sendiri?
Bukan karena mereka tidak mampu. Bukan karena mereka tidak layak. Tapi karena sistem membuat garis antara siapa yang bisa dan siapa yang “harus bayar dulu”.
Dan ketika kesempatan kerja dikurung dalam pagar percaloan, maka mimpi-mimpi itu pelan-pelan layu. Harapan tak mati karena badai besar, tapi karena tetes-tetes kecil dari kekecewaan yang menumpuk. Duri telah tumbuh, tapi tak menyangka—durinya menusuk anak sendiri.
Kini, suara-suara dari lorong sempit internet dan komentar di TikTok menjadi saksi: generasi yang menjerit, bukan karena malas, tapi karena lelah menunggu keadilan yang tak datang-datang.
Sudah saatnya kita berhenti pura-pura tidak tahu. Sudah waktunya para pemangku kebijakan, pemilik modal, dan mereka yang duduk di meja kekuasaan melihat luka ini sebagai luka bersama.
Karena jika kota ini terus melukai anak-anaknya sendiri, lalu siapa yang akan menjaga masa depannya?
Energi sejati dari sebuah kota bukan hanya minyak di dalam tanah, tapi juga semangat dan martabat warganya.
Dilarang mengambil dan menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin Redaksi.














