OPINI- KabarDuri— Menurut pandangan saya, pepatah “tong kosong nyaring bunyinya” lebih berlaku terhadap orang yang omongannya besar, bukan yang banyak bicara.
Kalau banyak bicara tapi berkualitas, tentu pepatah ini tidak berlaku.
Jadi apakah orang yang suka omong besar otaknya kosong? Tidak. Teman saya membuktikannya.
contoh orang terkenal yang memiliki omongan besar namun tidak kosong, Jose Mourinho adalah contohnya.
Ketika ia baru saja pindah dari Liga Portugal ke Liga Inggris setelah membawa tim asuhannya juara Eropa, ia langsung berkoar menyebut dirinya adalah “The Special One” dan datang ke Inggris sebagai seorang juara Eropa.
Tentu pernyataan sombong ini langsung diremehkan oleh pelatih kawakan seperti Arsene Wenger dan Alex Ferguson karena Liga Inggris sangatlah ketat dan keras. Namun, ia dapat membuktikan omongannya.
Ada orang yang banyak bicara karena justru kepalanya penuh dengan gagasan, pemikiran dan wacana. Bagi orang yang ekstrovert, berbicara justru adalah cara dia berpikir. Begitu juga dengan orang yang memiliki kecerdasan verbal. Mungkin saja dia tidak dapat memecahkan persoalan pelik semacam Quantum mekanik.
Tapi kemampuan yang bersangkutan dalam merangkai kata, hingga membuat pendengarnya hanyut dengan cerita yang disampaikan, adalah bentuk kecerdasan tersendiri yang istimewa.
Sebaliknya, yang pendiam juga tidak selamanya orang yang cerdas. Mungkin saja yang bersangkutan banyak diam karena memang tidak punya pengetahuan apa-apa untuk dibagikan. Dan lebih memilih untuk banyak menyimak.
Dalam hal ini, konteks juga berpengaruh.
Ketika melihat orang banyak bicara, perhatikan apa yang dia bicarakan. Ada perbedaan yang sangat besar ketika orang cerdas berbicara, dengan yang tidak. Dari mulai gaya, kosakata, sampai dengan subjek yang menjadi bahan pembicaraan.
Dilarang mengambil dan menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin Redaksi.

















