KabarDuri,DURI- Kota Duri, yang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat industri perminyakan di Provinsi Riau, kembali dihadapkan pada realita pahit yang mencoreng wajah kemakmuran daerah.
Di balik slogan legendaris “Kota Duri di atas minyak, di bawah minyak”, kenyataan di lapangan justru menunjukkan ketimpangan sosial dan praktik-praktik curang yang dilakukan oleh segelintir oknum untuk memperkaya diri sendiri.

Dalam beberapa pekan terakhir, redaksi Kabarduri menerima sejumlah laporan dari masyarakat terkait dugaan praktik mafia lowongan kerja (loker) yang terjadi di Kota Duri, khususnya pada sektor rig dan perusahaan-perusahaan migas ternama yang beroperasi di wilayah ini.
Informasi yang dihimpun menunjukkan bahwa sejumlah oknum diduga membuka “jalur belakang” bagi pencari kerja dengan syarat membayar sejumlah uang untuk bisa diterima bekerja.
Praktik ini semakin menguatkan dugaan adanya sindikat terorganisir yang memanfaatkan kesempatan dan celah dalam sistem rekrutmen, dengan dalih “bisa membantu masuk kerja”, padahal sejatinya mereka memperdagangkan harapan masyarakat kecil yang ingin memperbaiki taraf hidup melalui pekerjaan yang layak.
Ironisnya, hal ini terjadi di kota yang kaya akan sumber daya alam, di mana seharusnya peluang kerja menjadi hak yang adil bagi masyarakat lokal.
Oknum-oknum seperti ini dengan istilah “Belanda Ireng”, sebuah istilah kultural yang menggambarkan pengkhianat di tanah sendiri.
Mereka adalah orang-orang yang justru mengambil keuntungan dari penderitaan dan keterbatasan orang lain, menjadikan kebutuhan dasar seperti pekerjaan sebagai ladang bisnis pribadi yang penuh manipulasi dan penipuan.
Menurut pengakuan beberapa narasumber yang enggan disebutkan namanya, tarif untuk bisa masuk ke salah satu perusahaan migas bisa bervariasi, mulai dari Rp5 juta hingga puluhan juta rupiah, tergantung posisi dan kedekatan si calo dengan pihak internal perusahaan. Modus yang digunakan pun beragam.
Praktik ini tidak hanya merugikan para pencari kerja secara finansial, tetapi juga memicu ketidakadilan dan kesenjangan di tengah masyarakat.
Banyak dari mereka yang telah membayar mahal akhirnya tidak mendapatkan pekerjaan yang dijanjikan, dan lebih buruk lagi, kehilangan uang tabungan satu-satunya yang dikumpulkan dengan susah payah.
Masyarakat mendesak aparat penegak hukum, terutama kepolisian dan dinas tenaga kerja, untuk turun tangan menindak tegas pelaku mafia loker yang selama ini seolah bergerak bebas tanpa hambatan.
Selain itu, perusahaan-perusahaan migas juga diminta untuk melakukan audit internal dan memperkuat sistem rekrutmen yang transparan dan adil.
Kota Duri, yang berdiri megah di atas ladang minyak, seharusnya menjadi rumah yang adil bagi warganya.
Namun selama oknum-oknum “Belanda Ireng” masih diberi ruang untuk bermain, maka mimpi tentang kesejahteraan hanya akan menjadi ilusi.
Saatnya masyarakat bersatu melawan praktik-praktik curang ini, dan mengembalikan harga diri Kota Duri sebagai tanah yang makmur dan berkeadilan bagi semua.
Dilarang mengambil dan menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin Redaksi.
















