OPINI – Dalam kehidupan, kita sering melihat bagaimana seorang ayah memikul beban berat bukan hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai penuntun moral dan teladan bagi keluarganya.
Namun, iman seorang ayah tidak selalu serupa, tidak selalu seteguh yang dibayangkan anak-anaknya. Ada ayah yang kuat menahan godaan dunia, namun ada pula yang goyah di tengah arus zaman.
Di sinilah kebenaran hidup berbicara: iman seorang ayah belum tentu sama, dan tidak semua yang tampak gagah mampu bertahan dalam ujian.
Seperti belalang yang takkan pernah menjadi elang, manusia pun punya batas dan takdirnya sendiri. Belalang mungkin bisa melompat tinggi, tapi ia takkan pernah bisa menembus langit seperti elang yang terbang bebas di udara. Begitulah perumpamaan iman, bukan soal tinggi rendahnya posisi di mata dunia, tetapi tentang kemampuan bertahan di antara badai godaan, ujian, dan keserakahan.

Banyak yang ingin terlihat seperti elang: berwibawa, berkuasa, dan disegani. Namun tak sedikit yang sesungguhnya hanyalah belalang yang memoles diri agar tampak hebat di hadapan orang lain. Padahal, kilau emas muda tak selalu menandakan kemurnian, dan loyang yang tua belum tentu berarti bijak.
Kita hidup di zaman di mana nilai dan penampilan sering tertukar. Orang lebih mudah memuja yang bersinar, tanpa tahu apakah itu emas murni atau sekadar loyang yang mengilat karena lampu sorot. Padahal, iman dan kebijaksanaan tidak diukur dari tampilan, tapi dari ketulusan dan tindakan.
Seorang ayah sejati tak perlu berteriak untuk membuktikan kasihnya. Ia cukup hadir, cukup istiqamah dalam tanggung jawabnya, dan cukup jujur menanamkan nilai kebaikan bagi anak-anaknya. Tapi kenyataan hari ini sering berbeda: banyak ayah yang mengejar kehormatan dunia, tapi kehilangan arah dalam mendidik keluarga.
Ada yang sibuk menimbun harta, namun miskin kasih dan waktu. Ada yang membangun rumah megah, tapi lupa menegakkan tiang iman di dalamnya.
Ketika serangga takkan pernah jadi kura-kura, itu bukan bentuk hinaan, melainkan pengingat bahwa setiap makhluk punya takdir dan kelebihan masing-masing.
Namun banyak manusia justru memaksakan diri menjadi sesuatu yang bukan dirinya. Dalam upaya mengejar pengakuan, banyak yang lupa jati diri dan lupa batas kodratnya. Padahal, kebesaran seseorang justru lahir dari kejujuran menerima diri, bukan dari kepura-puraan.
Kita bisa memoles diri dengan emas, mengenakan topeng kebaikan, dan berbicara seolah penuh iman. Tapi pada akhirnya, waktu akan menyingkap segalanya. Loyang tetaplah loyang, meski disepuh seindah apa pun. Begitu juga manusia: jika hatinya kosong dari iman, maka segala kemegahan dunia hanyalah fatamorgana yang perlahan pudar.
Sebagai anak, kita mungkin kecewa melihat ayah yang dulu dianggap pahlawan ternyata manusia biasa — bisa salah, bisa rapuh, bahkan bisa tersesat. Tapi di situlah pelajaran besar kehidupan: iman itu perjalanan, bukan pencapaian tetap. Ada masa naik, ada masa turun. Ada ayah yang belajar dari luka, ada pula yang tenggelam dalam nafsu dunia. Namun setiap kisah selalu menyisakan makna bagi siapa pun yang mau merenung.
Maka, iman seorang ayah memang belum tentu sama. Tapi dari sanalah kita belajar: jangan menilai hanya dari rupa, jangan mengukur hanya dari kilau. Karena dalam hidup, yang tampak tua bisa saja rapuh, dan yang terlihat muda bisa jadi lebih kokoh dalam iman.
Belalang tidak perlu iri pada elang, sebab keduanya punya peran dalam keseimbangan alam. Begitu juga manusia: tak semua harus terbang tinggi untuk berarti. Yang penting adalah tetap jujur pada diri, teguh pada keyakinan, dan berani menjaga kebaikan di tengah dunia yang gemerlap tapi semu.
Dan pada akhirnya, ketika segalanya kembali pada sunyi, yang tersisa bukan emas, bukan loyang, bukan kilau. Yang tersisa hanyalah iman—sekuat apa pun atau selemah apa pun, ia adalah cermin sejati dari siapa kita sebenarnya.
Dilarang mengambil dan menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin Redaksi.

















