Di sisi lain, SF Hariyanto bukanlah tokoh baru dalam pemerintahan Riau.
Ia Sebelumnya dikenal sebagai birokrat senior yang memiliki pengalaman panjang dan rekam jejak yang baik.
Banyak masyarakat Riau, khususnya di kalangan ASN dan pemerhati pemerintahan, menaruh respek terhadap gaya kepemimpinan yang tenang dan teknokratis dari SF Hariyanto.
Namun kini, sosoknya seperti hilang dari panggung publik. Kerinduan pun muncul. Masyarakat rindu melihat kebersamaan Gubernur dan Wakil Gubernur dalam forum-forum besar, terutama seperti MTQ yang sarat nilai keagamaan dan kebersamaan umat Islam.
Di tengah semangat membumikan Al-Qur’an, ada semacam simbolisme yang hilang: kehadiran lengkap dan utuh dari pemimpin daerah. Sebab, bagaimana mungkin kita mengajak masyarakat bersatu dalam nilai-nilai Qur’ani, sementara para pemimpinnya justru tak tampil bersama di depan rakyat?
Catatan Penutup
MTQ ke-43 di Bengkalis ini berjalan meriah, sukses dalam sisi penyelenggaraan. Namun keberhasilan acara ini tidak boleh menutupi tanda tanya besar yang muncul di benak publik tentang dinamika hubungan pemimpin tertinggi Provinsi Riau.
Kita tentu berharap, ketidakhadiran SF Hariyanto bukan karena disharmoni, apalagi konflik personal.
Harus ada penjelasan resmi kepada publik. Pemerintah yang kuat adalah pemerintah yang transparan, kompak, dan mampu menjelaskan setiap keputusan, termasuk ketidakhadiran tokoh penting dalam acara besar.
Rakyat Riau tidak butuh pemimpin yang bersaing diam-diam. Yang dibutuhkan adalah kepemimpinan kolektif yang hadir di tengah-tengah masyarakat, bekerja untuk rakyat, dan menjunjung tinggi kebersamaan.
Sebagaimana pesan Al-Qur’an dalam Surah Al-Imran ayat 103: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” Semoga pesan ini bukan hanya untuk masyarakat, tapi juga menjadi pegangan bagi para pemimpin negeri ini.
Dilarang mengambil dan menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin Redaksi.
















