Ketika takbir berkumandang dan orang-orang bergegas menuju perayaan, ada yang hanya bisa termenung di sudut kamar gelap, berharap keajaiban datang.
Ada anak-anak yang memandang ke luar jendela, melihat teman-temannya bermain dengan baju baru, sementara mereka tetap dengan pakaian lusuh yang sama. Ada seorang ibu yang menahan air mata, tak sanggup menjawab pertanyaan anaknya tentang hidangan Hari Raya Idul Fitri yang tak pernah tersaji di meja mereka.
Lebih ironis lagi, di tengah penderitaan ini, sering kali mereka justru dianggap sebagai angka dalam laporan statistik, sekadar data yang dibahas sesaat lalu dilupakan. Program bantuan mungkin ada, tetapi apakah benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan? Ataukah hanya menjadi formalitas yang tak memberi perubahan nyata?
Hari Raya Idul Fitri seharusnya menjadi momentum untuk melihat lebih dalam, bukan hanya pada kemegahan perayaan, tetapi juga pada realitas yang tersembunyi.
Ini bukan sekadar tentang memberi sedekah di momen tertentu, tetapi tentang membangun empati yang lebih luas, kesadaran bahwa kebahagiaan tak seharusnya menjadi hak eksklusif segelintir orang.
Mari kita ubah cara kita memandang Hari Raya Idul Fitri. Bukan hanya sebagai ajang pesta, tetapi sebagai kesempatan untuk menyalakan cahaya di hati mereka yang selama ini hidup dalam kegelapan. Karena sejatinya, kebahagiaan tak akan pernah utuh jika masih ada yang terpuruk dalam kesedihan.Seakan Akan Penulis Menceritakan Nasipnya Sendiri*Ramadhan
Dilarang mengambil dan menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin Redaksi.
















