RIAU – Pada Agustus 2016, Riau dilanda musibah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang hebat, meninggalkan duka mendalam bagi bangsa. Di tengah kobaran api yang tak kenal ampun, seorang prajurit gagah berani, Pratu Wahyudi dari Denrudal 004/Dumai, gugur saat menunaikan tugasnya memadamkan api di Desa Labuhan Tangga Besar, Rokan Hilir, Riau.
Pengorbanan Pratu Wahyudi menjadi simbol heroik dalam perjuangan melawan karhutla. Pengingat pahit akan bahaya yang mengintai para pejuang di garis depan yang berjuang demi melindungi alam dan masyarakat dari ancaman asap dan api Karhutla.
Kisah tragis Pratu Wahyudi dimulai pada Kamis, 18 Agustus 2016, ketika ia dinyatakan hilang saat bertugas. Enam hari pencarian yang intens akhirnya mengungkap kenyataan pilu, jenazahnya ditemukan dalam kondisi terbakar, sekitar 250 meter dari lokasi terakhir ia terlihat.
Diduga kuat, Pratu Wahyudi tersesat dan terjebak dalam kepungan asap pekat saat berupaya mengganti selang pemadam. Komunikasi terakhirnya dengan rekan-rekan lewat telepon, di mana ia sempat menyebut berada di dekat sebuah pohon besar, menjadi jejak terakhir sebelum kontak terputus.
Kenangan pahit itu masih lekat dalam ingatan rekan-rekan seperjuangannya. Kepergian Pratu Wahyudi, yang berjuang hingga titik darah penghabisan, menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan kesatuan TNI.
Gubernur Riau, pada masa itu, Arsyadjuliandi Rachman memimpin upacara pelepasan jenazah Pratu Wahyudi. Jenazah almarhum akhirnya dipulangkan ke kampung halamannya di Magetan, Jawa Timur, dengan upacara militer penuh kehormatan di Bandara Sultan Syarif Kasim Pekanbaru pada Rabu, 24 Agustus 2016.
Sembilan tahun berselang, bayang-bayang peristiwa serupa nyaris kembali terjadi, menimpa Sertu Fren Martos Solissa, Babinsa Teluk Nilap, Koramil 04/Kubu. Pada Jumat, 18 Juli 2025, saat Sertu Fren berjuang memadamkan karhutla di Dusun Mekar Jaya, Rokan Hilir.
Sertu Fren dan rekannya tiba-tiba dikepung api yang membesar dan melompati parit selebar tujuh meter. Beruntung, sigapnya Fren dan rekan-rekannya membuat mereka berhasil menyelamatkan diri beserta kendaraan dinas dari amukan api.
Ia menggambarkan detik-detik mencekam saat mereka berhadapan langsung dengan bahaya. “Kalau tak lari saat itu, kami dan motor pasti terbakar,” ungkap Sertu Fren Martos Solissa, pada Senin, 21 Juli 2025
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa ancaman karhutla masih sangat nyata dan dapat datang kapan saja, menuntut kewaspadaan dan kesigapan maksimal dari setiap personel yang bertugas di lapangan.
Menurut data yang terkumpul, kebakaran yang hampir merenggut nyawa Sertu Fren telah melahap lebih dari 40 hektare lahan.
Lebih mengkhawatirkan lagi, api tersebut juga mengancam pipa minyak milik PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), yang merupakan salah satu objek vital nasional.
Sertu Fren Martos Solissa menegaskan bahwa pembukaan lahan dengan cara membakar adalah penyebab utama dari karhutla yang terus berulang.
Mengingat sebagian besar kasus karhutla diidentifikasi sebagai akibat ulah manusia.
“Ini bukan sekadar tugas, tapi panggilan moral. Jangan bakar lahan, jangan buang puntung rokok sembarangan,” ucapnya, seraya menyerukan kesadaran dan tanggung jawab bersama untuk mencegah terulangnya bencana.
Pengorbanan Pratu Wahyudi dan pengalaman nyaris tragis Sertu Fren Martos Solissa sebuah narasi tentang keberanian dan bahaya dalam memerangi karhutla.
Kisah-kisah ini menjadi pengingat akan pentingnya pencegahan dan peran krusial setiap individu dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Dilarang mengambil dan menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin Redaksi.

















