KabarDuri, DURI – Pekerjaan di Duri bayar itulah fakta yang dikeluhkan warga Duri, Kota Duri di Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis dikenal sebagai jantung industri minyak nasional, Rabu (11/06/2025).
Banyak perusahaan migas nasional dan asing beroperasi di sini, termasuk sektor penunjangnya seperti kontraktor dan subkontraktor.
Namun, di balik gemerlap status sebagai “kota kaya”, muncul persoalan klasik yang terus menghantui warga lokal: sulitnya mendapatkan pekerjaan tanpa “uang pelicin”.

Isu ini kembali mencuat di media sosial TikTok KabarDuri Dan Instagram setelah konten bertema “Duri Sebagai Energi Nasional” viral. Dalam video tersebut, warganet mengungkapkan kekecewaan mereka terkait praktik kerja yang dinilai tidak adil.
Keluhan Warganet: Lahir di Duri, Tapi Tetap Nganggur
Akun TikTok @LEGISUMITRO”04 menuliskan,
“Kota katanya kaya. Kata apa? Mau kerja aja harus bayar dulu. Percuma aku dari lahir sampai besar tinggal di Duri, tanah kelahiranku, tapi sampai sekarang aku masih nganggur.”
Komentar ini mendapat dukungan dari banyak pengguna lain yang mengalami hal serupa. Akun lain, @pondok durian hijau, menambahkan:
“Duri kota kaya, masuk kerja pakai duit, itulah kota Duri.”
Keluhan ini mencerminkan keresahan banyak pemuda dan pencari kerja lokal yang merasa termarjinalkan di kampung halaman sendiri.
Mafia Loker: Isu Lama yang Tak Kunjung Padam
Warga menuding Diduga adanya praktik “mafia loker” atau percaloan kerja, di mana seseorang harus membayar sejumlah uang untuk bisa diterima bekerja, khususnya di perusahaan-perusahaan besar maupun subkontraktornya. Jumlahnya bervariasi, dari ratusan puluhan juta rupiah, tergantung perusahaan.
Sayangnya, sulit mendapatkan bukti langsung karena praktik ini dilakukan secara tertutup. Mereka yang berani bicara sering kali takut disingkirkan atau tidak lagi mendapat peluang kerja.
Akibat dari praktik semacam ini, banyak warga asli Duri merasa tidak memiliki tempat di tanah kelahiran sendiri. Perusahaan-perusahaan besar lebih mudah diakses oleh mereka yang “punya jalur” atau “punya modal”, sementara warga lokal yang tidak punya akses atau uang, harus gigit jari.
Padahal, berdasarkan angka pengangguran terbuka di Duri cukup tinggi, terutama di kalangan usia produktif.
Sudah saatnya pemerintah daerah, DPRD Bengkalis, dan aparat penegak hukum menyelidiki secara serius dugaan adanya mafia kerja ini. Dibutuhkan transparansi dalam proses rekrutmen, pengawasan ketat terhadap perusahaan, dan keberanian warga untuk melapor.
Jika tidak ditindak, Kota Duri bisa saja menjadi simbol ironi: kaya energi tapi miskin keadilan bagi warganya sendiri.
Apakah Anda juga pernah mengalami atau mengetahui praktik serupa? Laporkan ke pihak berwenang atau bagikan ceritamu kepada KabarDuri.Net via E- Mail kabarduri1@gmail.com secara anonim untuk mendorong perubahan. Suara rakyat, terutama dari mereka yang terpinggirkan, harus didengar.*R1
Dilarang mengambil dan menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin Redaksi.












