OPINI – Tidak Perlu Bersusah Payah untuk kaya, cukup mengasah lidah agar pandai menjilat terdengar sarkastik, namun mencerminkan pandangan sinis terhadap realitas kehidupan modern.
Kalimat ini lahir dari kejenuhan sosial terhadap kenyataan bahwa kadang, usaha dan kerja keras tidak selalu sebanding dengan hasil yang didapat.
Kini, kepandaian berbicara, merayu, dan menyenangkan hati orang lain sering dianggap jalan pintas menuju keberhasilan. Kata-kata manis bisa membuka pintu yang tak dapat diketuk oleh kerja keras semata. Lidah yang terampil memilih kata bisa mengubah posisi seseorang dari yang biasa saja menjadi dianggap luar biasa.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai orang yang lebih dihargai bukan karena prestasinya, tetapi karena kemampuannya berkata manis di waktu yang tepat. Kalimat yang dipoles dengan pujian dan kehalusan bisa menjadi alat yang sangat ampuh — lebih ampuh dari keringat dan kerja keras bertahun-tahun.
Fenomena ini membuat banyak orang percaya bahwa untuk sukses, tidak perlu menguras tenaga atau pikiran. Cukup dengan mengasah lidah, memilih kata dengan hati-hati, dan tahu kapan harus berbicara — semuanya bisa berubah. Di sinilah letak kegetiran kalimat tersebut: kesuksesan yang tampak mudah, tapi berakar pada kepura-puraan.
Secara moral, kalimat ini memang mengandung sindiran tajam. Ia mengingatkan bahwa ada dua jalan menuju kemapanan: jalan sulit yang dilalui dengan kerja keras dan kejujuran, serta jalan mudah yang ditempuh dengan kelicinan kata.
Ironinya, masyarakat sering lebih cepat menghargai yang pandai bicara daripada yang diam tapi bekerja. Dari sinilah muncul kesan bahwa “mengasah lidah” lebih efisien daripada bersusah payah membangun kemampuan dan karakter. Padahal, keberhasilan yang lahir dari kepura-puraan biasanya rapuh — cepat naik, cepat pula jatuh.
Kalimat “cukup mengasah lidah agar pandai menjilat” bukan ajakan, melainkan peringatan. Ia mengingatkan kita tentang mudahnya tergoda oleh cara cepat dan manisnya kepura-puraan. Tapi di balik semua itu, tetap ada nilai yang tak tergantikan: hasil dari kerja keras yang lahir dari ketulusan, bukan dari permainan kata.
Pada akhirnya, lidah memang bisa menjadi alat untuk naik, tapi juga bisa menjadi sebab jatuh. Dan di antara keduanya, pilihan tetap di tangan kita — ingin kaya dengan harga diri, atau sekadar kaya dengan kata-kata.
Dilarang mengambil dan menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin Redaksi.
















