DURI – Kelompok masyarakat yang lahir antara tahun 1992 hingga 1996 kini semakin sering menjadi sorotan. Sejumlah peneliti menyebut generasi ini sebagai “Zillennials”, yakni generasi peralihan yang berada di antara Milenial (Gen Y) dan Generasi Z.
Para pengamat menilai mereka sebagai generasi yang tumbuh di dua era berbeda, yakni masa analog dan digital.
Saat masih kecil, mereka menggunakan kaset VHS, telepon rumah, hingga internet dial-up.
Namun ketika beranjak dewasa, mereka menjadi bagian awal dari gelombang pengguna media sosial modern seperti Instagram dan TikTok.

Kemampuan beradaptasi menjadi salah satu keunggulan utama kelompok ini.
Mereka tidak hanya memahami teknologi terbaru, tetapi juga memiliki pengalaman menggunakan sistem konvensional.
Perpaduan pengalaman analog dan digital membentuk generasi 1992–1996 sehingga mereka memiliki literasi teknologi yang lebih matang dibanding generasi setelahnya.
Selain itu, generasi ini menunjukkan keseimbangan karakter dengan mewarisi etos kerja kuat dari generasi Milenial serta mengembangkan kreativitas digital dan kesadaran sosial yang pesat layaknya Generasi Z.
Pengalaman hidup di masa transisi besar dalam perkembangan teknologi komunikasi juga memberikan sudut pandang yang unik bagi kelompok ini, baik dalam kehidupan sosial maupun profesional.
Secara klasifikasi, mereka masih termasuk dalam kategori Milenial Akhir atau Generasi Y. Tahun 1996 bahkan kerap disebut sebagai batas akhir sebelum masuk ke generasi berikutnya, yaitu Generasi Z yang dimulai dari tahun 1997.
Dengan berbagai keunggulan tersebut, tidak sedikit pihak yang menilai generasi Zillennials sebagai salah satu generasi paling adaptif dan relevan dalam menghadapi perubahan zaman.
Dilarang mengambil dan menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin Redaksi.











