Ketiadaan SF Hariyanto tentu menimbulkan pertanyaan besar di kalangan publik. Apalagi dalam konteks acara sebesar MTQ tingkat provinsi yang seharusnya menjadi panggung silaturahmi dan unjuk kekompakan antara pemimpin daerah.
Secara etika pemerintahan, kehadiran Wakil Gubernur dalam acara resmi tingkat provinsi, terlebih di hadapan para kepala daerah se-Riau, adalah simbol penting dari kerja sama dan soliditas.
Publik pun mulai bertanya-tanya, apakah ketidakhadiran ini hanya karena alasan teknis semata, atau justru merupakan isyarat dari ketegangan hubungan antara Gubernur dan Wakil Gubernur? Isu ini kian menguat, mengingat hingga hari ini, SF Hariyanto terbilang jarang muncul di berbagai agenda publik sejak pelantikan pasangan ini beberapa bulan lalu.
Tanda-tanda Retaknya Kepemimpinan?
Dilarang mengambil dan menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin Redaksi.
















