“Pak, Jangan Hancurkan Masa Depan Kami”
KabarDuri, DURI – Fenomena keberadaan pekerja seks komersial (PSK) masih menjadi persoalan yang terus menuai pro dan kontra di tengah masyarakat.
Namun dalam pandangan moral, sosial, dan agama, praktik ini jelas membawa dampak negatif yang signifikan terhadap tatanan kehidupan sosial.
Memberi ruang bagi aktivitas PSK sama saja dengan membuka celah bagi kerusakan moral yang lebih besar.

Generasi muda bisa terpengaruh, nilai-nilai keluarga terkikis, dan lingkungan sosial menjadi tidak sehat. Ketika praktik ini dibiarkan tumbuh, bukan hanya individu yang rusak, tapi juga masyarakat secara keseluruhan.
Pemerintah dan aparat penegak hukum seharusnya tegas dalam menertibkan praktik-praktik prostitusi terselubung maupun terang-terangan.
Tak cukup dengan razia sesekali, dibutuhkan pendekatan yang menyeluruh, termasuk edukasi dan pemberdayaan ekonomi bagi para wanita yang terjerumus dalam dunia ini.
Masyarakat juga punya peran penting dalam menolak keberadaan praktik semacam ini.
Normalisasi terhadap PSK adalah bentuk pembiaran terhadap kemerosotan moral.
Kita harus sepakat bahwa masa depan bangsa tidak akan kuat jika dibangun di atas dasar yang rapuh secara etika dan akhlak.
Menutup ruang bagi PSK bukan soal tidak berbelas kasih, tapi soal keberanian menjaga nilai dan martabat bangsa.
Sudah saatnya kita bersatu menegakkan moralitas, demi kehidupan sosial yang lebih sehat dan bermartabat.
“Pak, Jangan Hancurkan Masa Depan Kami”
Teriakan hati ini belum selesai. Di balik gemerlap
Malam, ada tangisan anak-anak yang ditinggal ayahnya, ada istri yang ditelantarkan tanpa nafkah dan perhatian. Dan salah satu akar masalahnya adalah praktik prostitusi yang terus dibiarkan tumbuh.
Banyak rumah tangga yang hancur karena suami tergoda rayuan sesaat. PSK hadir bukan sekadar sebagai “pilihan hidup”, tapi sering menjadi pemicu retaknya ikatan keluarga.
Seorang ayah yang seharusnya menjadi pelindung, justru berubah menjadi sosok yang melukai batin anak dan istrinya demi kesenangan semu.
Anak-anak yang tak lagi mendapatkan figur ayah, tumbuh dalam luka dan kehilangan. Mereka menyaksikan ibunya menangis setiap malam, menahan beban hidup sendirian. Ini bukan hanya tragedi keluarga, tapi tragedi sosial yang akan terus mewariskan luka dari generasi ke generasi.
Sungguh ironis, ketika negara dan masyarakat membiarkan praktik PSK tumbuh dengan alasan ekonomi atau kebebasan individu, sementara di sisi lain, kerusakan yang ditimbulkannya jauh lebih dalam dan sistemik.
Kami mohon pada pemimpin negeri ini—jangan beri ruang untuk prostitusi. Jangan biarkan praktik ini terus mengoyak nilai-nilai keluarga. Berikan perlindungan, edukasi, dan jalan keluar yang bermartabat bagi mereka yang terjebak.
Tapi jangan pernah melegitimasi sesuatu yang jelas merusak tatanan kehidupan.
Karena setiap keluarga yang hancur, setiap anak yang kehilangan kasih sayang, adalah alarm yang seharusnya membangunkan nurani kita bersama.
Karena setiap keluarga yang hancur, setiap anak yang kehilangan kasih sayang, adalah alarm yang seharusnya membangunkan nurani kita bersama.*Ramadhan
Dilarang mengambil dan menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin Redaksi.

















