Dengan kejamnya, ayah tiri Sarah berhasil mempengaruhi Sarah untuk meninggalkan Riski. Dengan kekuasaannya yang tak terbendung, ia mengatur perjodohan antara Sarah dan seorang pemuda kaya yang dikehendaki olehnya. Bahkan saudara kembarnya, Sari, yang seharusnya menjadi sahabat dan penyokong, ikut membantu dalam menghancurkan cinta mereka.
Pisah itu pahit, bagaikan menusuk hati dengan belati yang tajam. Riski harus merelakan cinta sejatinya demi kebahagiaan Sarah, meskipun hatinya hancur berkeping-keping. Sarah, dengan perasaan bercampur aduk, memilih menuruti kemauan orang tua dan saudara kembarnya.
Namun, kisah mereka tak berakhir di situ. Ayah tiri Sarah tak pernah berhenti untuk mencelakai Riski. Ia melarang Sarah untuk berkomunikasi dengan Riski dan bahkan merampas alat komunikasi Sarah agar mereka tak bisa bertemu lagi.
Kebencian dari pihak keluarga Sarah, terutama dari ayah tirinya, terus mengalir kepada Riski. Mereka terus berupaya merusak reputasi dan nama baik Riski, bahkan dengan menggunakan media sosial sebagai alat untuk menjelekkan nama baiknya. Namun, Riski tidak tinggal diam.
“Ia memilih untuk melawan semua kejahatan dan fitnah yang dilancarkan oleh keluarga Sarah.”
Dilarang mengambil dan menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin Redaksi.














